
Bareksa.com - Naik turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun ini tentu saja memengaruhi pergerakan investasi reksadana. Meskipun demikian, ternyata masih ada produk investasi reksadana yang terus mencatat keuntungan tinggi di saat pasar saham tertekan.
Secara year-to-date (sejak awal tahun hingga 13 Juli 2018), IHSG tercatat turun 6,23 persen. Seiring dengan hal itu, kinerja mayoritas investasi reksadana jenis campuran juga ikut tertekan, yang tercermin dari imbal hasil Indeks Reksadana Campuran minus 3,21 persen.
Sebagai informasi, reksadana campuran adalah jenis reksadana yang isi portofolionya terdiri dari saham, obligasi dan deposito dengan porsi 10-79 persen di saham, 2-79 persen di obligasi dan 2-79 persen di pasar uang.
Memang beberapa reksadana mencatat penurunan imbal hasil (return) cukup dalam, tapi ternyata ada reksadana campuran yang juga menghasilkan return jauh di atas indeks reksadana campuran maupun IHSG.
Menurut data di Marketplace Bareksa, investasi reksadana campuran yang menghasilkan keuntungan tertinggi sejak awal tahun adalah Simas Satu. Reksa dana kelolaan PT Sinarmas Asset Management ini menghasilkan return 17,87 persen.
Performa Reksadana Simas Satu Secara Year-to-Date (YTD)
Sumber : Bareksa.com
Baik dalam periode 3 bulan hingga 1 tahun terakhir, investasi reksadana saham Simas Satu selalu lebih unggul dibanding IHSG dan Indeks Reksadana Campuran Bareksa sebagai acuan tersebut. Lengkapnya bisa dilihat dalam tabel berikut ini.
Sumber : Bareksa.com
Bagaimana bisa investasi reksadana campuran Simas Satu mengalahkan acuannya?
Mari kita lihat dalam portofolionya. Alokasi portofolio Simas Satu per Mei 2018 adalah 78,76 persen ditempatkan pada saham, Obligasi Pemerintah 0,55 persen, Obligasi Korporasi 9,45 persen dan Deposito Giro sebesar 11,24 persen.
Menurut fund fact sheet per Mei 2018, top holdings (aset yang paling banyak dipegang) reksadana ini adalah saham-saham sektor industri, konsumsi, dan perdagangan. Mereka adalah saham PT Indah Kiat Pulp dan Paper Tbk (INKP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Nippon Indosari Tbk (ROTI), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), dan PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE).
Adapun total kelolaan dana di produk ini mencapai Rp297 miliar per Mei 2018.
Sebagai informasi, reksadana campuran cocok untuk investasi jangka menengah (1- 3 tahun). Reksadana ini juga memiliki risiko lebih kecil jika dibandingkan reksadana saham.
Oleh sebab itu, produk ini disarankan untuk investor yang memiliki profil risiko moderat. Investor yang berprofil risiko moderat (sedang) ini memliki karakteristik yang siap menerima fluktuasi jangka pendek dengan potensi keuntungan yang diharapkan dapat lebih tinggi dari inflasi dan deposito saat berinvestasi.
Ayo mulai berinvestasi reksadana untuk mendapatkan potensi keuntungan dan mencapai tujuan finansial kita di masa depan. (hm)
***
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS
DISCLAIMER
Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana..