
Bareksa.com – Dalam sebulan terakhir, pergerakan pasar modal menurun, tak terkecuali juga saham-saham berbasis syariah. Berdasarkan data Bareksa, saham-saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) jatuh lebih dalam yakni 5,17 persen dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan yang terkoreksi 4,30 persen dalam periode 12 Agustus-14 September 2016.
Hal tersebut tentunya juga turut menyeret kinerja reksa dana saham syariah, yang sebagian besar asetnya ditaruh pada saham-saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seolah seiring dengan pergerakan dengan indeks saham syariah, mayoritas reksa dana syariah juga tertekan hingga minus 6,03 persen dan 5,45 persen melebihi indeks reksa dana saham secara keseluruhan.
Grafik: Perbandingan Indeks Reksa Dana Saham Syariah, Indeks Reksa Dana Saham Konvensional, IHSG, dan JII dalam Sebulan Terakhir
Sumber: Bareksa.com
Kinerja reksa dana saham syariah yang turun tajam ini banyak ditekan oleh penurunan saham-saham di sektor infrastruktur dan properti. Padahal, kedua sektor ini merupakan 2 sektor terbesar yang menjadi aset kelolaan reksa dana saham syariah. Di Bursa Efek Indonesia, indeks saham sektor infrastruktur dan properti mencatat penurunan 8,72 persen dan 7,75 persen dalam sebulan terakhir, seperti yang tampak pada grafik di bawah ini.
Grafik: Perbandingan Indeks Sektoral dalam Sebulan Terakhir
Sumber: Bareksa.com
Hal ini juga sesuai dengan penelusuran analis Bareksa melalui fund fact sheet beberapa reksa dana saham syariah yang mengalami penurunan cukup dalam hingga lebih dari 5 persen. Simas Syariah Unggulan, Pratama Syariah dan Cipta Syariah Equity, yang menempatkan aset dengan porsi besar pada sektor infrastruktur dan properti dalam portofolio reksa dana, dalam sebulan terakhir ini melemah.
Kedua sektor tersebut menjadi pilihan dalam alokasi aset reksa dana karena memiliki potensi yang besar dalam jangka menengah hingga panjang tetapi masih termasuk dalam kriteria efek syariah karena tidak mendapatkan penghasilan utamanya berasal dari bunga (riba). Hal ini sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengelompokan saham-saham yang tergolong syariah dalam Daftar Efek Syariah (DES) dengan tidak bertentangan prinsip syariah Islam, seperti mengharamkan uang riba.
Pada data historikal dengan waktu yang relatif lebih panjang yakni 5 tahun, ternyata kinerja reksa dana saham syariah mampu tumbuh mengungguli rata-rata reksa dana saham secara keseluruhan. Tercatat return indeks reksa dana saham syariah sebesar 28,27 persen, lebih besar dibandingkan indeks reksa dana saham yang sebesar 25,74 persen.
Di sisi lain, fluktuasi pasar saham yang terjadi saat ini, tentunya akan membuat pilihan berinvestasi pada aset seperti saham dan reksa dana saham syariah akan berpotensi menimbulkan risiko dalam jangka pendek. Namun memaksimalkan keuntungan dalam berinvestasi merupakan hal yang mutlak bagi investor.
Oleh karena itu sebagai investor cermat, kita dapat memilih reksa dana pasar uang syariah sebagai pilihan instrumen keuangan dengan risiko rendah dan tetap berprisinsip syariah. Hal ini dikarenakan reksa dana jenis ini banyak menempatkan asetnya pada deposito yang minim fluktuasi pasar saham. Hasil keuntungan (return) reksa dana pasar uang syariah pun tidak kalah dengan yang reksa dana konvensional.
Pada Marketplace Investasi Bareksa, Bahana Likuid Syariah dapat menjadi alternatif menempatkan uang yang tepat saat ini guna melindungi investasi dari penurunan pasar saham. Dalam sebulan terakhir reksa dana yang dikelola oleh PT Bahana TCW Investment Management mampu melampaui rata-rata bunga deposito bank-bank umum. Jika rata-rata bank memberikan bunga sekitar 4-5 persen per tahun, maka reksa dana yang dikelola Bahana ini tercatat menghasilkan return 6,15 persen dalam setahun terakhir. Selain itu, reksa dana ini juga menghasilkan return di atas rata-rata pasar yang hanya 3,68 persen, seperti yang tampak pada grafik di bawah ini.
Grafik: Pergerakan NAB Reksa Dana Bahana Likuid Syariah
Sumber: Bareksa.com
***
Ingin berinvestasi reksa dana?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS
DISCLAIMER
Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.