Kenali Model Pemilihan reksa Dana Dengan Sharpe Ratio, Jensen, dan Treynor

Bareksa • 16 Feb 2016

an image
Reksa Dana (Bareksa.com)

Terdapat 3 model pengukuran kinerja untuk memilih reksa dana terbaik dengan membandingan return dan resiko dari asetnya

Bareksa.com – Sebelum melakukan investasi pada sebuah instrumen investasi reksa dana, ada baiknya seorang investor melihat kondisi pasar dan evaluasi terhadap kinerja reksa dana terlebih dulu. Hal ini dilakukan agar investor dapat menemukan reksa dana yang cocok dan sesuai dengan kondisi pasar.
 
Misalnya ketika keadaan pasar sedang semarak atau bullish market maka urutan untuk memilih reksa dana dimulai dari reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, dan terakhir reksa dana pasar uang. Sebaliknya jika pasar sedang lesu atau bearish market, urutan pilihan reksa dana dimulai dari reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan terakhir reksa dana saham.

Setelah memilih jenis reksa dana, langkah selanjutnya bagi seorang investor adalah memilih produk reksa dana yang memiliki kinerja terbaik. Dalam mengevaluasi produk reksa dana, dari sisi kinerja portofolio aset dalam menghasilkan return dan risiko, ada 3 model yang dapat digunakan, yaitu Sharpe Ratio, Jensen, dan Treynor Ratio. Berikut  ulasan mengenai model pengukuran kinerja tersebut.

1.    Sharpe Ratio

Rasio ini merupakan perbandingan antara return yang dihasilkan dengan total risiko portofolio reksa dana.  Total risiko ini tercermin dalam nilai Standar Deviasi (SD) yang meliputi risiko sistematis maupun risiko dari portofolio aset reksa dana itu sendiri. (Baca Juga: Memilih Reksa Dana Dengan Indikator Sharpe Ratio)

Semakin tinggi nilai sharpe ratio menunjukan bahwa semakin baik kinerja dari suatu reksa dana. Berikut  contoh sejumlah reksa dana saham yang memiliki nilai sharpe ratio tertinggi.

Tabel: Daftar Reksa Dana Saham Yang Memiliki Nilai Sharpe Ratio Tertinggi

Sumber: Bareksa.com

2.    Jensen

Pada data bareksa, nilai Jansen merupakan nilai yang memperhitungkan antara selisih return yang disetahunkan dari portofolio reksa dana dengan return aset bebas risiko (risk free asset). Pada umumnya  aset bebas risiko yang digunakan risk free rate adalah tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).

Semakin tinggi nilai Jensen, maka kinerja dari suatu reksa dana menunjukan semakin baik. Berikut contoh sejumlah reksa dana saham yang memiliki nilai Jensen tertinggi.

Tabel: Daftar Reksa Dana Saham Yang Memiliki Nilai Jensen Tertinggi

Sumber: Bareksa.com

3.    Treynor Ratio

Tidak jauh berbeda dengan sharpe ratio, Rasio Treynor juga merupakan perbandingan antara return yang dihasilkan dengan risiko dari reksa dana. Namun, risiko yang dibandingkan adalah hanya dari risiko sistematis (risiko pasar) saja yang tercermin dari nilai beta.

Nilai rasio treynor yang semakin tinggi juga menggambarkan kinerja dari suatu reksa dana semakin baik. Berikut  contoh reksa dana saham yang memiliki nilai Treynor Ratio tinggi.

Tabel: Daftar Reksa Dana Saham Yang memiliki Nilai Treynor Ratio Tertinggi

Sumber: Bareksa.com

Dari penjelasan dan tabel yang dilampirkan, terlihat bahwa hasil nilai dari Sharpe ratio, Jensen, dan Treynor memiliki hasil negatif.  Hal ini disebabkan return yang dihasilkan pada mayoritas reksa dana saham adalah negatif akibat dari pergerakan pasar saham pada 2015 yang cenderung menurun.

Dalam menentukan produk reksa dana, model rasio yang digunakan dapat dipilih salah satu dari ketiga model evaluasi, kemudian membandingkan produk reksa dana yang satu dengan reksa dana lainnya yang masih berada dalam satu jenis.

Memilih reksa dana dengan melihat nilai ratio diatas merupakan pengukuran yang membandingkan return dengan risiko dari suatu portofolio reksa dana. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh investor saat mengevaluasi kinerja reksa dana adalah kewajaran dari isi portofolio, seperti besar kecilnya dana kelolaan, layanan dan transformasi informasi yang tidak secara langsung tercermin dari pergerakan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana.

 

***

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.