Era Kenaikan Fluktuasi IHSG, Reksa Dana Beta Rendah Ini Bisa Jadi Pilihan

Bareksa • 11 Jun 2015

an image
Indeks Reksa Dana di Bareksa.com. (Bareksa.com/Alfin Tofler)

Beta merupakan ukuran volatilitas atau risiko sistematis dari suatu saham atau portofolio

Bareksa.com - Reksa dana saham merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko cukup tinggi. Risiko tersebut berasal dari fluktuasinya harga saham yang mempengaruhi pergerakan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tersebut.

Pergerakan NAB reksa dana saham dipengaruhi oleh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika IHSG melemah, pergerakan NAB reksa dana saham juga ikut melemah.

Beberapa reksa dana ada yang memiliki volatilitas atau beta yang tinggi. Maksudnya adalah apabila IHSG menguat, pergerakan NAB reksa dana tersebut justru naik lebih tinggi, sehingga memberi potensi keuntungan lebih besar. Tetapi jika IHSG melemah, penurunan NAB juga akan lebih dalam.

Beta merupakan ukuran volatilitas atau risiko sistematis dari suatu saham atau portofolio dibandingkan dengan volatilitas pasar secara keseluruhan.

Jika nilai beta lebih dari satu mengindikasikan bahwa nilai reksa dana tersebut bergerak dengan volatilitas yang lebih tinggi dari IHSG. Sementara beta kurang dari satu mengindikasikan nilai reksa dana tersebut memiliki volatilitas lebih rendah dibanding IHSG. Jadi, bagi Anda yang kurang menyukai volatilitas, dapat memilih reksa dana yang memiliki beta rendah.

Pergerakan reksa dana yang memiliki beta rendah memang tidak seagresif reksa dana dengan beta tinggi. Namun, bukan berarti reksa dana tersebut memiliki return rendah. Beberapa reksa dana berikut merupakan reksa dana dengan beta rendah, tapi memiliki return cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan return IHSG.

Tabel Return Reksa Dana dengan Beta Rendah

Sumber: Bareksa.com

Di antara reksa dana tersebut, reksa dana Lautandhana Equity Progresif memiliki beta paling rendah, tapi return yang dihasilkan justru paling tinggi dibanding reksa dana lainnya. Secara year-on-year (YoY) reksa dana yang hanya memiliki beta 0,27 tersebut menghasilkan return hingga 14,13 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan IHSG yang hanya menghasilkan return 0,3 persen dalam satu tahun.

Sementara itu reksa dana Simas Saham Unggulan juga merupakan reksa dana dengan beta rendah yang memiliki return tinggi. Return reksa dana yang dikelola oleh PT Sinarmas Asset Management ini sebesar 10,92 persen dalam satu tahun dengan beta 0,77.

Grafik: Pergerakan NAB Simas Saham Unggulan

Sumber : Bareksa.com

Grafik di atas menunjukkan bahwa pergerakan reksa dana Simas Saham Unggulan tidak berbeda jauh dengan pergerakan saham sektor properti, terutama sejak awal bulan tahun ini. Ini menandakan pergerakan reksa dana saham tersebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham sektor properti.

Pada fund fact sheet per Mei 2015, tercatat 3 saham properti menjadi top holdings reksa dana Simas Saham Unggulan. Ketiga saham properti itu  adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Nirvana Development Tbk (NIRO) dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Selain saham sektor properti, saham sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan saham sektor perkebunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) juga menjadi sektor yang memiliki alokasi terbesar dalam portofolionya.

Berbeda dengan Simas Saham Unggulan, Cipta Syariah Equity memiliki pergerakan NAB yang lebih fluktuatif. Hal itu terlihat dari nilai beta yang lebih tinggi dibanding Simas Saham Unggulan, yakni 0,9. Namun return yang diperoleh oleh Cipta Syariah Equity juga cukup lumayan sekitar 5,09 persen dalam satu tahun, jauh lebih tinggi dibanding return IHSG.

Berdasarkan fund fact sheet, reksa dana ini mengalokasikan aset ke sektor konsumsi sebesar 21,94 persen, sektor infrastruktur sebesar 19 persen, sektor properti 11,86 persen, pertambangan sebesar 8,95 persen dan industri lain-lain sebesar 7,05 persen.

Grafik: Pergerakan NAB Cipta Syariah Equity

Sumber : Bareksa.com

Meskipun Cipta Syariah Equity memiliki beta yang relatif rendah, tapi ternyata saat IHSG bergerak sedikit menguat, NAB reksa dana ini juga menguat lebih tinggi -- terlihat dari pergerakan NAB reksa dana pada pertengahan Mei lalu. Pada saat IHSG anjlok, tentu saja NAB reksa dana ini juga ikut melemah, tetapi tidak sedalam penurunan IHSG, sehingga return yang dihasilkan Cipta Syariah Equity masih lebih tinggi dibanding IHSG.

Pergerakan NAB Cipta Syariah Equity mirip dengan pergerakan indeks sektor infrastruktur. Namun, reksa dana ini memanfaatkan momentum melemahnya saham sektor ini pada awal tahun lalu sehingga return Cipta Syariah Equity lebih tinggi dibanding return indeks saham infrastruktur dalam satu tahun.

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.