Yield Obligasi dan Data Tenaga Kerja AS Picu Pergerakan Harga Emas

Pada Jumat (8/10), harga emas bergerak tertahan di zona US$1.750 per ounce
Abdul Malik • 08 Oct 2021
cover

Ilustrasi investasi emas batangan atau logam mulia yang kian populer di masyarakat di tengah pandemi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menilai, harga emas sedikit tertahan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS) dan rilis data tenaga kerja AS.

Berdasarkan riset ICDX pada Jumat, (8/10), harga emas bergerak tertahan di zona US$1.750 per ounce. Pergerakan ini dipengaruhi oleh yield obligasi AS yang meningkat dan menunggu rilis data sektor tenaga kerja AS pada akhir pekan ini.

ICDX melihat kewaspadaan menyelimuti perdagangan mata uang dan logam mulia pada Jumat, (8/10) dengan pasar yang relatif menunggu tiga data penting AS, dengan dua di antaranya diharapkan akan menunjukan hasil yang cukup baik dibandingkan periode sebelumnya. Rilis data sektor tenaga kerja menjadi perhatian investor karena bisa menjadi data penggerak kebijakan ekonomi.

Hal ini sesuai dengan pernyataan the Fed sebelumnya yang condong mengamati data sektor tenaga kerja AS. Dari data tenaga kerja AS ini, pelaku pasar akan melihat kaitannya dengan perubahan kebijakan pada pertemuan the Fed pada awal November mendatang.

Untuk perdagangan hari ini, emas akan berada di area US$1.755 hingga ke zona US$1.763 per ounce. Sementara untuk mengantisipasi perdagangan AS yang menantikan rilis data-data sektor tenaga kerja, zona support melebar ke area US$1.750 hingga ke zona US$1.730 per ounce. Sedang untuk zona resistance berada di area US$1.770 hingga ke zona US$1.780 per ounce.

Emas adalah instrumen investasi yang bisa dilakukan kapan saja dan dengan beragam cara. Tujuannya tak lain demi memberikan kepastian kondisi keuangan yang baik di masa depan.

Saat ini, berinvestasi tidak harus menunggu memiliki uang banyak. Berinvestasi di emas bisa dilakukan dengan dana investasi terbatas sekalipun. Mengapa emas menjadi instrumen investasi yang digemari masyarakat?

Simak 5 fakta menarik seputar investasi emas seperti yang dilansir dari laman Sahabat Pegadaian berikut :

1. Tahan Terhadap Krisis

Emas dikenal sebagai komoditas khusus yang sangat tahan terhadap inflasi ataupun krisis moneter. Makanya, emas disebut-sebut sangat cocok dijadikan sebagai alat pelindung kekayaan bagi para investor.

2. Tidak Terpengaruh Kebijakan Pemerintah

Emas ialah satu-satunya komoditas yang tak terpengaruh oleh kebijakan politik atau pemerintah. Seperti apa pun pergolakan politik dan langkanya kebutuhan hidup, harga emas tak akan ikut anjlok atau meningkat secara signifikan. Saat nilai kebutuhan pokok menurun, harga emas yang tampak meningkat sebenarnya tetap stabil.

3. Emas Disimpan Sebagai Cadangan Devisa

Emas memang bukan lagi menjadi acuan mata uang. Meski begitu, bank sentral di beberapa negara masih menyimpan cadangan devisa berupa emas. Ada 10 negara dengan cadangan devisa terbesar, yaitu Amerika Serikat, Italia, Jerman, Jepang, Prancis, Tiongkok, Rusia, Swiss, India, dan Belanda.

4. Investasi Tertua di Dunia

Investasi emas merupakan investasi tertua di dunia. Jauh lebih tua dibandingkan instrumen investasi seperti obligasi, saham, bahkan mata uang yang beredar di dunia. Emas dahulu digunakan sebagai alat tukar maupun acuan mata uang nyaris di seluruh dunia.

5. Harga Emas Berubah Dua Kali Sehari

Harga emas ditetapkan dua kali setiap hari, yakni pada jam 10.30 dan 15.00 di wilayah-wilayah tertentu. Sebut saja N M Rothschild, Deutsche Bank, Bullion Houses, HSBC, Scotia-Mocatta, dan Societe Generale. Penetapan ini pertama kali dimulai pada tanggal 12 September 1919

(K09/AM)

**

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.