Cermati 5 Faktor Ini, Bahana TCW Sarankan Rebalancing Aset Obligasi

Hanum Kusuma Dewi • 05 Oct 2020

an image
Ilustrasi rebalancing portofolio investasi berdasarkan risiko

Deflasi dan pelemahan indeks PMI menekan sentimen di pasar saham.

Bareksa.com - Pasar saham global ditutup bervariasi pekan lalu, seiring dengan berbagai sentimen dari luar negeri dan dalam negeri. Ada sejumlah isu yang perlu dipantau dan bisa menjadi pertimbangan dalam berinvestasi di pasar modal.

Di dalam negeri, pasar saham dan SBN melemah kendati Rupiah menguat tipis ke level Rp14.873 per dolar AS. Deflasi dan pelemahan indeks Purchasing Manager Index (PMI) menekan sentimen di pasar saham. IHSG turun 0,39 persen ke level 4.926 dan yield obligasi negara tenor acuan 10 tahun ditutup pada 6,92 persen.

Menurut riset Bahana Watch dari Bahana TCW Investment Management yang telah dibagikan kepada nasabah pada 5 Oktober 2020, ada lima faktor yang patut dicermati pekan ini.

1. Deflasi Bulanan Berlanjut 

BPS mencatat deflasi bulanan sebesar 0,05 persen pada September. Deflasi ini merupakan yang ketiga secara beruntun. Secara tahunan, inflasi September hanya sebesar 1,42 persen, jauh di bawah target BI antara 2-4 persen. 

2. Indeks PMI Melemah

Indeks PMI manufaktur Indonesia berbalik melemah pada bulan September, seiring penerapan PSBB ketat di Jakarta. PMI tercatat sebesar 47,2, turun dari 50,8 di bulan sebelumnya sekaligus kembali masuk ke zona kontraksi.

3. Negosiasi Stimulus AS

Negosiasi Stimulus AS kembali berlanjut setelah Nancy Pelosi, pimpinan Parlemen asal partai Demokrat menurunkan nominal proposal stimulus dari $3,4 triliun menjadi $2,2 triliun. Partai Republik menginginkan $1,6 triliun saja. 

4. Trump Positif Covid-19

Presiden Trump mengumumkan dirinya dan Ibu Negara positif terinfeksi Covid-19. Sehari sebelumnya, penasihat Trump terdeteksi positif. Wakil Presiden dan lawan debat Trump diketahui negatif sehari setelahnya.

5. Pelonggaran Moneter 

Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) berkomitmen untuk menjaga kebijakan moneter longgar. Hal ini dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca Pandemi.

Menurut Bahana TCW, kelima faktor pilihan di atas mengindikasikan untuk bertahap melakukan rebalancing (penyesuaian alokasi) aset obligasi. Alokasi kelas aset yang disarankan dengan porsi dari yang terbesar adalah obligasi, saham dan pasar uang.

"Volatilitas berpeluang meningkat mendekati Pilpres AS. Pasar kini kembali mempertimbangkan prospek pandemi dan respon kebijakan pemerintah," tulis riset tersebut. 

Dalam proyeksi dengan skenario dasar akhir tahun ini, Bahana memperkirakan Rupiah di level 14.640 per dolar AS, yield obligasi pemerintah 10 tahun di 6,76 persen dan IHSG di level 5.097. 

* * * 

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.