IHSG Menguat 1,22 Persen dalam Sepekan, Namun Asing Terbanyak Lepas 5 Saham Ini

Bareksa • 18 Mar 2019

an image
Pengunjung melintasi layar elektronik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. IHSG menguat dengan ditopang sektor mining, property dan basic industry. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Periode 11 - 15 Maret 2019, IHSG tercatat naik 1,22 persen point to point ditutup 6.461

Bareka.com - Sepekan kemarin, pergerakan pasar saham Tanah Air terlihat bergerak cukup positif hingga mampu berakhir di zona hijau. Dalam periode 11 hingga 15 Maret 2019, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 1,22 persen point to point ditutup di level 6.461,18.

Secara sektoral, hampir seluruhnya berakhir di zona merah pada pekan kemarin, kecuali hanya pertambangan dan infrastruktur yang masing-masing melemah 0,28 persen dan 0,01 persen.

Sementara itu, tiga sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi pada pekan kemarin yaitu industri dasar (2,85 persen), manufaktur (1,72 persen), dan keuangan (1,65 persen).

Di sisi lain, Investor asing terpantau cukup banyak keluar dari pasar saham domestik dengan mencatatkan penjualan bersih (net sell) sepanjang pekan lalu senilai Rp1,87 triliun.

Meski begitu, sejak awal tahun 2019 hingga saat ini, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp9,89 triliun.

Saham-saham yang terbanyak dilepas investor asing sepekan kemarin :

1. Saham TLKM (Rp509,12 miliar)
2. Saham BBCA (Rp348,18 miliar)
3. Saham BMRI (Rp298,3 miliar)
4. Saham ASII (Rp287,28 miliar)
5. Saham UNTR (Rp205,21 miliar)

Berbagai Sentimen Pekan Lalu

Meningkatnya optimisme terkait damai dagang Amerika Serikat (AS) dengan China menjadikan pasar saham menarik di pandangan pelaku pasar hingga akhirnya mencatatkan penguatan.
Pemerintah China di Beijing menegaskan pihaknya akan bekerja siang dan malam demi terciptanya kesepakatan dagang dengan AS. Bahkan, China sudah mulai bicara soal langkah menghapus pengenaan bea masuk.

China pun berupaya untuk memenuhi keingingan AS, salah satunya adalah reformasi kebijakan subsidi. Kepala Komisi Administrasi dan Pengawasan Aset Negara China Xiao Yaqing menyatakan Beijing sedang membereskan isu ini.

Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Bank Sentral China Yi Gang mengatakan AS dan China telah mencapai kesepahaman dalam banyak isu-isu krusial.

Dari kubu AS, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan negosiasi dagang dengan China telah menciptakan kemajuan. Kudlow juga mengungkapkan optimismenya bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bisa bertemu pada akhir bulan ini atau awal bulan depan di resor golf Mar-a-Lago, Florida, AS.

Kemudian dari Eropa, perkembangan Brexit menjadi isu yang dicermati pelaku pasar pekan lalu. Rabu (13/03/2019) waktu setempat, parlemen Inggris menolak opsi No-Deal Brexit. Dalam pemungutan suara, sebanyak 321 anggota parlemen menolak opsi perpisahan secara kasar tersebut, sementara sebanyak 278 memberikan dukungannya.

No-Deal Brexit akan membuat aktivitas ekspor-impor Negeri Ratu Elizabeth menjadi tertekan lantaran akan terkena tarif yang lebih mahal.

Sebelumnya, Bank of England yang merupakan bank sentral Inggris telah memperingatkan bahwa No-Deal Brexit bisa mengakibatkan resesi. Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Mengingat Inggris merupakan salah satu negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, tentulah resesi di Inggris akan secara signifikan menekan laju perekonomian dunia.

Kemudian dari dalam negeri, rilis neraca perdagangan yang mencatatkan surplus menjadi sentimen positif lain bagi bursa saham domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Februari 2019 neraca dagang Indonesia membukukan surplus senilai US$330 juta, walaupun memang surplus tersebut dihasilkan oleh penurunan impor yang lebih dalam daripada penurunan ekspor.

Sepanjang bulan lalu, ekspor terkontraksi 11,33 persen secara tahunan, sementara impor anjlok hingga 13,98 persen YoY.

Analisis Teknikal IHSG


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu terlihat mengalami pergerakan yang positif meskipun di dua hari awal perdagangan sempat tertekan, namun akhirnya di tiga hari berikutnya berhasil mencatatkan kenaikan beruntun.

Selain itu, pola pergerakan IHSG saat ini terlihat akan membentuk pola three white soldiers yang menandakan indikasi pergerakan bullish dalam jangka pendek.
Kemudian posisi IHSG juga terlihat mulai mencoba bergerak di atas garis middle bollinger band yang semakin menguatkan adanya potensi tersebut.

Di sisi lain, indikator relative strength index (RSI) juga terpantau terus bergerak naik setelah sempat memasuki area jenuh jual, mengindikasikan adanya momentum penguatan dalam jangka pendek.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.