Kembali Tinggalkan 6.000, Mampukah IHSG Bangkit?

Bareksa • 22 Nov 2018

an image
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (18/6). IHSG ditutup melemah 0,25 point atau 0,01 persen menjadi 4.945,49 pada perdagangan bursa saham awal ramadan. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Pasar saham Indonesia terkena sentimen negatif dari harga minyak global yang naik

Bareksa.com - Mengawali kembali perdagangan setelah sebelumnya libur pada Selasa 20 November 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan yang kurang menyenangkan. Pada perdagangan kemarin, 21 November 2018, IHSG harus ditutup melemah cukup dalam, serta kembali meninggalkan level psikologis 6.000.

Sebenarnya sentimen eksternal kemarin cukup kondusif, didukung oleh dua peristiwa utama. Pertama, ada berita baik dari Eropa. Mengutip Reuters, pemerintah Italia bersedia berkompromi soal rancangan anggaran 2019.  

Sebelumnya, Uni Eropa dikabarkan sudah menolak rencana anggaran tersebut karena dinilai terlalu agresif. Defisit anggaran Negeri Pizza ditargetkan mencapai 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kenaikan defisit akan membuat utang pemerintah Italia semakin menggunung, dan risiko krisis fiskal ikut membesar. 

Kini pemerintah Italia mulai sedikit melunak. Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini menyatakan membuka kemungkinan untuk mengkaji ulang rencana anggaran 2019. Pemerintah siap untuk mengurangi belanja negara. Kabar tersebut meredakan satu risiko di pasar keuangan global, yaitu kemungkinan krisis fiskal di Negeri Spaghetti. 

Kedua, pelaku pasar mengapresiasi kabar positif terkait hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Arab Saudi. Sebelumnya, sumber-sumber dari intelijen AS menyebutkan bahwa pembunuhan Kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi merupakan perintah dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS ingin tetap menjadi "mitra yang solid" dengan Arab Saudi, terlepas dari dirinya yang juga mengatakan bahwa Putra Mahkota mungkin sudah tahu mengenai rencana untuk membunuh Khashoggi. Trump dalam pernyataannya, mengindikasikan bahwa dia tidak punya niat untuk menghentikan kontrak militer dengan Riyadh. 

Di sisi lain, terdapat sentimen negatif yang membayangi IHSG pada perdagangan kemarin yakni harga minyak mentah dunia. Setelah sebelumnya anjlok 6 persen, harga minyak brent dan light sweet menguat di kisaran 1 persen. 

Investor menilai bisa saja harga minyak mulai bergerak rebound. Harga minyak yang sudah murah, bahkan secara year to date sudah negatif, bisa menarik minat investor untuk mulai kembali mengoleksi komoditas ini. 

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak bukanlah berita baik. Sebab Indonesia merupakan negara net importir migas, sehingga lonjakan harga minyak akan membuat biaya impor semakin mahal. Saat harga minyak naik, maka impor migas akan lebih mahal dan defisit neraca migas semakin parah, yang pada akhirnya akan membebani neraca perdagangan, transaksi berjalan, hingga pelemahan rupiah.

Pada perdagangan Rabu, 21 November 2018, IHSG ditutup melemah 0,95 persen dengan berakhir di level 5.948,052. Aktivitas perdagangan tergolong ramai di mana tercatat 8,34 miliar saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp8,17 triliun.

Sebanyak 131 saham mengalami kenaikan, sementara 273 saham mengalami penurunan, serta 103 saham tidak mengalami perubahan harga. Selain itu, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) pada perdagangan kemarin senilai Rp587,04 miliar.

Secara sektoral, mayoritas berakhir di zona merah pada perdagangan kemarin, dengan sektor yang mengalami pelemah terdalam yaitu pertambangan (-5,02 persen), kemudian pertanian (-1,56 persen), dan keuangan (-1,51 persen).

Adapun tiga sektor yang berakhir di zona hijau yaitu sektor properti (0,80 persen), kemudian industri dasar (0,54 persen), dan konsumer (-0,02 persen).

Saham - saham yang membebani IHSG pada perdagangan kemarin antara lain :

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) : -2,6 persen

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) : -2,7 persen

PT United Tractors Tbk (UNTR) : -7,1 persen

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) : -1,2 persen

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) : -11,8 persen

 

Analisis Teknikal IHSG

Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle IHSG pada perdagangan kemarin membentuk bullish spinning top tetapi dengan posisi yang lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya. Hal ini menggambarkan IHSG mengalami pergerakan yang negatif meskipun berhasil ditutup di atas level pembukaannya.

Adapun secara intraday, pergerakan IHSG terlihat sudah berada di zona merah sejak awal pembukaan dengan turun cukup tajam. Meskipun sempat memangkas pelemahannya di 40 menit awal perdagangan, setelah itu IHSG kembali melemah hingga harus berakhir di zona merah.

Indikator relative strength index (RSI) terpantau mulai bergerak turun mengindikasikan IHSG sedang mengalami momentum negatif. Dilihat dari sudut pandang teknikal, pergerakan IHSG pada hari ini berpotensi dibayangi pelemahan.

Namun di sisi lain, kondisi bursa Amerika Serikat (AS) yang ditutup berhasil rebound tipis pada perdagangan kemarin diharapkan bisa sedikit meredam aksi penjualan, sehingga bisa mengangkat IHSG pada hari ini. Adapun Dow Jones ditutup flat 0,00 persen, kemudian S&P500 naik tipis 0,30 persen, dan Nasdaq menguat 0,92 persen. (hm)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut