Rupiah Rp14.700/$, Mayoritas Analis Katakan Indonesia Sudah Masuki 'Krisis Mini'

Bareksa • 29 Sep 2015

an image
Foto double expose karyawan bekerja di galeri Bursa Efek Jakarta - (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Pemerintah hadapi tantangan berat agar kondisi ini tidak benar-benar timbulkan krisis ekonomi

Bareksa.com – Sebagian besar ekonom dan pelaku pasar mulai khawatir pelemahan ekonomi ini bisa berpotensi menimbulkan krisis ekonomi jika pemerintah salah langkah dalam mengatasi fluktuasi nilai tukar yang sedang tinggi akibat masalah eksternal.

Komisaris Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), Henry Saparini mengatakan impak dari fluktuasi nilai tukar sudah mulai terasa pada sektor riil. Pengamat ekonomi ini juga merasa kondisinya sudah lebih berat dibandingkan dengan tahun 2008 lalu.

“Kalau dikatakan lebih berat daripada 2008, betul, memang sekarang lebih berat karena di 2008 kita punya lingkungan external yang positif,” katanya saat dihubungi Bareksa.com.

Rupiah melemah hingga Rp12.600 per dolar Amerika pada 20 November 2008 dari posisi Rp9.102 pada 1 Agustus 2008. Tetapi pemulihan berlangsung lebih cepat karena aliran dana asing masuk ke negara berkembang khususnya China dan India setelah Amerika memotong suku bunga ke level terendah dalam sejarah.

China merupakan tujuan ekspor komoditas terbesar bagi Indonesia. Masuknya investasi ke China tentunya juga meningkatkan permintaan ekspor dari negeri tirai bambu ini. Henry menambahkan pada 2008, Indonesia tertolong ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Sementara pada tahun 2015 ini, investor asing justru berbondong-bondong mengeluarkan dananya dari pasar berkembang termasuk China untuk melakukan pembelian surat berharga Amerika dilatarbelakangi proyeksi bahwa Amerika akan meningkatkan dananya.

Turunnya investasi ke China membuat permintaan komoditas dari China juga melemah. Akibatnya Indonesia yang masih mengandalkan komoditas dalam menopang pertumbuhan ekonomi ikut terpuruk. Rupiahpun terpuruk hingga menembus Rp14.730 per dolar Amerika hari ini, jam 11.30 WIB.

Tentunya menjadi beban berat bagi pemerintahan saat ini. Menurut Henry, perlu ada upaya dari pemerintah untuk memberi insentif bagi produk lokal, sehingga ekspor yang tidak terserap bisa dipergunakan di dalam negeri. Hal ini juga memberikan efek positif yakni mengurangi ketergantungan impor.

Grafik Korelasi IHSG dengan Nilai Tukar Rupiah

Sumber: Bareksa.com

Grafik Arus Dana Asing Ke China (Dalam Ratusan Juta Dolar Amerika)


Sumber: Tradingeconomics.com

Purbaya Yudi Sadewa, ekonom senior yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis Kantor Staf Kepresidenan juga menilai perlambatan ekonomi kali ini cukup parah. Menurutnya pemerintah belum cukup agresif dalam mengambil kebijakan menahan laju perlambatan ekonomi.

“Kalau melambat itu nantinya tergantung kemampuan fiskal dan moneter pemerintah apakah jatuhnya akan dalam atau dangkal,” katanya kepada Bareksa.com.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mempunyai daya dorong yang cukup kuat ke ekonomi Indonesia. Gelontoran paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada sesi pertama hanya memperbaiki birokrasi namun belum mencakup kebijakan moneter serta perbaikan ekonomi, tambah Purbaya.

Ketika ditanya akankah krisis separah 2008, Purbaya mengembalikan bagaimana kebijakan pemerintah menanggulangi pra krisis saat ini.

“Kalau dibandingkan 2008 saat ini kita baru saja mulai melambat. Kalau puncaknya kita belum tahu karena akan tergantung dari tanggapan pemerintah,” ujarnya.

Head of Research NH Korindo, Reza Priambada, mengatakan kondisi Indonesia memang belum krisis namun sudah dalam tahap lampu kuning.

“Sudah level waspada dan kalau tidak ditangani dengan baik, efek domino setelahnya yang kita takutkan terjadi,” ujarnya.

Reza menilai, walaupun ada kenaikan konsumsi semen naik 14,7 persen pada bulan Agustus 2015 dibanding tahun sebelumnya namun kondisi perekonomian Indonesia masih rentan. Gejalanya bisa dilihat dari melemahnya IHSG beberapa waktu belakangan. (baca juga: Penjualan Semen & Mobil Agustus Naik. Sinyal Ekonomi Membaik?)

Indeks Dow Jones, Amerika dan juga indeks di kawasan regional Asia kompak menghijau, namun IHSG masih terus berada di zona merah. Padahal sentimen luar negeri yang selama ini dianggap menjadi sentimen negatif.

Analis Samuel Sekuritas, Muhammad Isfandi, mengatakan krisis sudah terjadi di bursa saham. Namun dampaknya ke rumah tangga akan terasa belakangan.

Dari segi angka, Isfandi menilai tidak ada gambaran secara real kondisi saat ini. Namun, kejatuhan IHSG dan juga rupiah sudah menjadi barometer kondisi perekonomian Indonesia.

Sebaliknya Presiden Direktur Schroder Investment, Michael Tjoajadi masih optimis bahwa Indonesia akan terbebas dari krisis pada tahun ini. Walaupun Indonesia berpotensi tidak mencapai target pertumbuhan 5 persen, namun secara kuartalan, pada kuartal ke-empat ini pertumbuhan ekonomi akan kembali menguat.

"Jadi kita tidak masuk ke arah resesi. Kita hanya mengalami perlambatan dibanding di tahun lalu,” ujarnya kepada Bareksa.com.

Head of Research Universal Broker,  Satrio Hutomo, kepada Bareksa, juga mengatakan Indonesia tidak bisa dimasukkan dalam kategori krisis ataupun mini krisis.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif, Kalau menurut saya ini pra krisis, bukannya mini krisis. Pra krisis ini bisa jadi menjadi krisis jika tidak ditangani dengan baik” katanya.

Jika dibandingkan dengan 2008, Indonesia punya ketahanan terhadap krisis yang lebih rendah saat ini, sehingga harus diantisipasi oleh pemerintah agar tidak berlarut-larut. (np)