
Bareksa.com - Nilai tukar rupiah melemah hingga ke level terendah dalam tahun ini imbas dari penurunan harga minyak dunia serta stimulus yang dikeluarkan oleh negara-negara di Eropa dan Jepang memperkokoh posisi penguatan dolar Amerika.
Kemarin nilai tukar rupiah melemah hingga Rp12.295 per dolar. Menurut ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, melemahnya nilai tukar rupiah tidak perlu dikhawatirkan berlebihan karena ditopang oleh kondisi fundamental ekonomi yang membaik.
"Defisit neraca perdagangan menurun dan arus masuk dana asing di pasar keuangan juga meningkat. Sementara impor minyak mentah akan turun seiring dengan penurunan BBM subsidi," kata Rangga kepada Bareksa.com. (Baca juga: Jokowi Jadi Presiden Rupiah Terus Melemah, Kenapa Tak Sesuai Prediksi?)
Posisi cadangan devisa juga masih tinggi walaupun pada bulan November turun menjadi $111,14 miliar dibanding bulan Oktober sebesar $111,97 miliar.
Diberitakan kontan, Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengatakan penurunan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan penggunaan devisa untuk pengendalian moneter. Posisi cadangan devisa per akhir november 2014 tersebut dapat membiayai 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional.
Pergerakan nilai tukar rupiah di bulan November sedikit menguat dibandingkan dengan bulan Oktober berdasar pada data Bareksa. Ini menunjukan penurunan cadangan devisa terjadi juga akibat adanya intervensi yang dilakukan BI guna menjaga nilai tukar rupiah.
Grafik. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Sumber: Bareksa.com
Berdasarkan data Bareksa, cadangan devisa BI kembali mengalami peningkatan sejak September 2013. Tren tersebut terjaga hingga saat ini seiring dengan perbaikan fundamental ekonomi yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi twin deficit -- defisit neraca anggaran dan defisit neraca berjalan -- .
BI menerapkan sistem kebijakan moneter kontraktif dengan meningkatkan suku bunga acuan untuk menahan laju konsumsi impor. Pemerintah sendiri juga berupaya memberi instentif bagi ekspor dan juga menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk mengurangi impor minyak.
Grafik. Cadangan Devisa
Sumber: Bareksa.com
Grafik. Cadangan Devisa Tahun 2014
sumber: bank indonesia
Di tahun 2014 ini, cadangan devisa bulan november merupakan yang terendah sejak Agustus 2014. Berdasarkan data Bareksa, cadangan devisa Indonesia tahun 2014 mengalami penurunan sebanyak 3 kali yaitu pada bulan Maret, September, dan November. (np)