
Bareksa.com - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan dimana berdasarkan data Bareksa, hingga jam 14.00 wib, rupiah berada pada level Rp12.139,- per dolar Amerika dan IHSG terkoreksi 0,11 persen ke level 5.126,67.
Secara historis, dampak pelemahan rupiah mendorong penurunan IHSG, dimana pada awal Januari 2014, nilai tukar rupiah sempat berada pada level Rp12.127 per dolar Amerika, IHSG melemah hingga ke level 4.327,27.
Setelah rupiah menguat ke level Rp11.670 per dolar Amerika pada 25 Februari 2014, IHSG ikut merangkak naik ke level 4.577,29. Hingga puncak penguatan rupiah di pertengahan Mei yang berkisar pada level Rp11.400 per dolar Amerika berhasil mendorong IHSG menembus level 5.031,57.
Di kondisi tersebut ada beberapa faktor peningkatan IHSG. Pertama penguatan nilai tukar rupiah karena defisit transaksi berjalan mengecil impak dari langkah pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia dengan meningkatkan tingkat bunga acuan.
Kedua adalah implikasi politik dimana pada bulan Maret, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) diumumkan menjadi calon presiden serta hasil pemlilihan legislatif yang memastikan Jokowi dapat menjadi calon Presiden.
Sentimen positif ini yang masih menahan laju arus masuk (inflow) dana investor asing. Dimana pada saat defisit terjadi di neraca perdagangan membuat nilai tukar rupiah kembali melemah Rp11.980,- di akhir Juni 2014, ternyata masih terjadi inflow dana investor asing.
Tetapi akhir September ini, pelemahan nilai tukar rupiah juga diikuti dengan arus keluar (outflow) dana investor asing sehingga meningkatkan risiko koreksi pada pasar saham. Nilai tukar rupiah menembus level Rp12.000,- per dolar Amerika dan telah terjadi outflow sekitar Rp7,22 triliun sejak 9 September hingga kemarin.
Investor mengkhawatirkan mengenai kondisi fundamental, dimana jika Pemerintahan baru tidak berhasil menurunkan subsidi Bahan Bakar Minyak dapat meningkatkan defisit anggaran. Selain itu juga kondisi politik dimana Pemerintahan baru masih belum memperoleh suara mayoritas di parlemen.
Sepanjang kedua risiko tersebut belum ada sinyal baik mengenai solusi yang dilakukan Pemerintah, maka IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dan juga akan mendorong penurunan pada reksadana saham yang memiliki underlying saham. (NP)
Korelasi Pergerakan Nilai Tukar Rupiah & IHSG
Sumber: Bareksa.com
Selengkapnya data dapat di akses pada Analisis Pasar