Chart of The Day: Khawatir Amerika Percepat Pengetatan Monet

Bareksa • 15 Sep 2014

an image
Pergerakan IHSG & Nilai Tukar Rupiah - 12 Sept 2014 (Bareksa.com)

Investor kawatir The Fed akan mempercepat kenaikan tingkat bunga serta pemangkasan stimulus

Bareksa.com - Minggu lalu, pasar saham terkoreksi dan nilai tukar rupiah mengalami pelemahan salah satunya disebabkan kekhawatiran investor terhadap hasil rapat Bank Sentral Amerika, The Fed besok yang diperkirakan akan mempercepat langkah untuk menaikan tingkat bunga acuan serta pemangkasan stimulus. 

The Fed diperkirakan akan mempercepat kenaikan tingkat bunga dari September 2015 menjadi Juni 2015 dari laporan riset perusahaan asing yang kami pelajari. Enam tahun terakhir ini, dengan level Fed Rate yang rendah investor dapat memperoleh dana murah untuk di investasikan pada negara berkembang termasuk Indonesia. Sehingga jika Fed Rate dinaikkan, terdapat kekhawatiran dana asing akan kembali ke Amerika.

Didalam laporan riset harian PT Maybank Kim Eng Securities Indonesia yang telah disampaikan kepada nasabah memprediksi The Fed akan tetap mempertahankan bunga pada level 0,25 persen. Selain itu The Fed juga diprediksi akan kembali memotong stimulus (Quantitative Easing/QE) ke-3 sebesar USD10 miliar menjadi USD15 miliar.

QE3 merupakan program stimulus dimana The Fed melakukan pembelian obligasi dari pasar yang awalnya pada September 2012 sebesar USD40 miliar per bulan kemudian dinaikkan pada Desember 2012 menjadi USD85 miliar per bulan untuk mendorong jumlah uang beredar dimasyarakat sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Seiring dengan pemulihan ekonomi di Amerika, nilai stimulus juga dikurangi. Pemotongan jumlah stimulus (tapering) pertama terjadi pada Juni 2013 dimana stimulus dikurangi menjadi USD65 miliar per bulan. Hingga Agustus 2014, stimulus QE3 hanya tinggal USD25 miliar.

Dalam rencana The Fed pemangkasan akan terus berlanjut sehingga Oktober 2014 selesai dan tidak lagi memberi stimulus ke ekonomi. Langkah pengetatan moneter ini dikhawatirkan akan mengurangi dana asing yang masuk (inflow) ke pasar negara berkembang.

Mei 2013 lalu dimana The Fed mengumumkan akan melakukan tapering pada QE3, ditambah langkah pengetatan yang dilakukan Bank Indonesia dan Menteri Keuangan untuk mengatasi defisit transaksi berjalan  dan fiskal mendorong keluarnya dana investor asing (outflow) sekitar Rp47,4 triliun di pasar saham.

Sementara tahun ini dana asing kembali masuk dimana periode year-to-date telah mencapai Rp46,5 triliun ke pasar saham. Jika Pemerintah tidak segera mengatasi masalah defisit yang kembali melebar pada akhir tahun ini maka risiko keluarnya (outflow) dana asing dari Indonesia menjadi semakin besar. Sehingga risiko eksternal akan meningkatkan fluktuasi di pasar saham dan obligasi.

Tetapi jika Pemerintah segera memperkuat fundamental ekonomi di Indonesia, maka di prediksi dana asing akan tetap bertahan bahkan akan bertambah, karena jika dibandingkan dengan negara berkembang lain dikawasan Asia, Indonesia termasuk yang lebih baik.

IHSG terkoreksi sekitar 1,9 persen menjadi 5.143 pada Jumat (12/9) dari level tertingginya Senin (8/9) sebesar 5.246. Nilai tukar rupiah juga melemah menjadi Rp11.807 per dolar Amerika pada Jumat (12/9) dibanding Rp11.715 per dolar Amerika pada Senin (8/9).

Pergerakan IHSG & Nilai Tukar Rupiah periode year-to-date

Sumber: Bareksa.com

Selengkapnya data dapat di akses pada : Analisis Pasar