Harga Emas Bisa Segera Tembus di Atas US$5.000? Ini Analisis State Street & FTSE Russell

Abdul Malik • 10 Apr 2026

an image
Prediksi harga emas yang diperkirakan bisa segera tembus di atas US$5.000 per ons. (Shutterstock)

Harga emas diprediksi berpotensi tembus US$5.000 meski ada tekanan jangka pendek. Simak analisis terbaru State Street dan FTSE Russell.

Bareksa - Harga emas dunia masih menjadi sorotan di tengah gejolak pasar global. Melansir Kitco News, dua lembaga investasi besar yakni State Street Investment Management dan FTSE Russell melihat prospek jangka panjang emas tetap bullish, meskipun dalam jangka pendek menghadapi berbagai tekanan.

Analis komoditas dari State Street menyebutkan bahwa harga emas masih memiliki peluang menembus level US$5.000 per ons hingga akhir tahun. Bahkan, terdapat probabilitas 50% harga emas bergerak di kisaran US$4.750–US$5.500.

Namun, proyeksi optimistis ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Kenaikan harga minyak global mendorong inflasi lebih tinggi, yang kemudian memicu ekspektasi suku bunga tetap tinggi lebih lama (higher for longer).

Kondisi ini meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas, karena emas tidak memberikan bunga.

Harga Emas Dalam Negeri 

Platform
Harga per Gram
Keterangan

Treasury

Rp2.699.379

Harga promo (diskon)

Pegadaian

Rp2.788.000

Emas digital

Indogold

Rp2.701.260

Emas digital

Antam (batangan)

Rp2.857.000

Harga emas fisik 

Sumber: fitur Bareksa Emas, harga per 10/4/2026

Tekanan Jangka Pendek: Suku Bunga & Konflik Global

Perubahan ekspektasi kebijakan moneter menjadi salah satu faktor utama. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga, kini justru muncul peluang suku bunga tetap tinggi bahkan sempat diperkirakan naik.

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah juga memperburuk kondisi pasar energi dan rantai pasok global. Kenaikan harga minyak tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga memperkuat dolar AS—kombinasi yang biasanya menekan harga emas.

Meski demikian, harga emas masih relatif stabil di bawah level US$4.800, menunjukkan ketahanan di tengah tekanan.

Fundamental Kuat: Utang Global & Risiko Stagflasi

Di balik tekanan jangka pendek, faktor struktural justru menjadi pendorong utama optimisme terhadap emas. Salah satunya adalah lonjakan utang global yang kini mencapai sekitar US$348 triliun, atau 3–4 kali PDB dunia.

State Street menilai peningkatan defisit fiskal dan beban bunga utang berpotensi memicu risiko pelemahan nilai mata uang (currency debasement), yang secara historis mendorong permintaan emas.

Pandangan ini diperkuat oleh Indrani De yang menyebut bahwa pasar mulai menunjukkan sinyal menuju stagflasi—kombinasi pertumbuhan ekonomi melambat dan inflasi tinggi.

Dalam kondisi tersebut, aset riil seperti emas biasanya menjadi pilihan utama investor.

Peran Emas Mulai Bergeser, Tapi Tetap Penting

Meski tetap menjadi safe haven, karakter emas saat ini mulai berubah. Kenaikan tajam harga sebelumnya hingga sempat menyentuh rekor membuat emas semakin diperlakukan sebagai aset finansial, dengan pola profit taking yang lebih cepat.

Selain itu, kenaikan suku bunga membuat biaya memegang emas meningkat, karena tidak menghasilkan pendapatan rutin.

Namun, emas tetap memiliki peran penting sebagai penyeimbang portofolio. Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, diversifikasi menjadi semakin krusial, dan emas masih menjadi salah satu “anchor” utama.

Prospek: Kapan Emas Bisa Naik Lagi?

State Street melihat beberapa skenario yang bisa mendorong harga emas kembali menguat:

  • Penurunan suku bunga global
  • Stabilisasi harga minyak
  • Meredanya konflik geopolitik

Jika harga minyak kembali ke kisaran US$80–85 per barel, emas dinilai berpotensi kembali menembus US$5.000 per ons.

Sebaliknya, jika harga minyak melonjak ekstrem (misalnya di atas US$150), tekanan jangka pendek bisa meningkat, meski risiko resesi atau stagflasi juga akan makin besar—yang justru positif untuk emas dalam jangka lebih panjang.

Kesimpulan

Meski menghadapi tekanan dari suku bunga tinggi dan inflasi, prospek jangka panjang emas tetap kuat didorong oleh faktor struktural seperti utang global dan risiko stagflasi. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas masih relevan sebagai aset lindung nilai sekaligus diversifikasi portofolio.

FAQ 

1. Apa faktor utama yang mempengaruhi harga emas?
Suku bunga, inflasi, nilai dolar AS, dan kondisi geopolitik.

2. Apakah emas masih layak untuk investasi saat ini?
Masih, terutama untuk diversifikasi dan lindung nilai.

3. Kenapa emas turun saat suku bunga naik?
Karena biaya peluang meningkat dibanding aset berbunga.

4. Apa itu stagflasi?
Kondisi ekonomi dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan rendah.

5. Selain emas, komoditas apa yang menarik?
Logam industri dan energi, terutama terkait AI dan transisi energi.

Investasi di Aplikasi Jual - Beli Emas Terbaik - Bareksa

Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.

Beli Emas di Sini

Tengang Penulis

​*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER

Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.