
Bareksa - Harga emas dunia mencetak rekor baru setelah sempat menyentuh US$5.111 per ons secara intraday pada perdagangan 26 Januari, sebelum ditutup di kisaran US$5.043 per ons. Mengutip laporan Investing, sepanjang tahun ini saja, harga emas sudah melonjak hampir 17%, menjadikannya salah satu aset dengan performa terbaik di tengah pasar global yang bergejolak.
Tak hanya emas, logam mulia lain seperti perak dan platinum juga ikut reli, menandakan investor global sedang agresif memburu aset berbasis komoditas.
Lonjakan emas tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor utama pendorongnya:
1. Geopolitik Memanas
Ketegangan global meningkat, mulai dari konflik geopolitik, isu tarif dagang AS, hingga manuver militer di sejumlah kawasan strategis. Kondisi ini membuat investor beralih ke safe haven, dan emas jadi pilihan utama.
2. Ekspektasi Suku Bunga Turun
Pasar memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan mulai melonggarkan kebijakan moneter ke depan. Suku bunga yang lebih rendah membuat emas makin menarik karena biaya peluang (opportunity cost) memegang emas ikut turun.
3. Belanja Agresif Bank Sentral
Banyak bank sentral dunia terus menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari dolar AS, memperkuat permintaan jangka panjang.
4. Reli Logam Global
Menurut Yardeni Research, reli ini bukan hanya emas, tapi sudah berubah menjadi “melt-up” di berbagai logam, dipicu perlombaan senjata militer dan teknologi berbasis AI yang menyedot kebutuhan logam dalam jumlah besar.
Yardeni Research tetap sangat bullish. Mereka memproyeksikan:
Jika skenario ini terjadi, dampaknya ke investor Indonesia cukup signifikan. Dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS:
Harga spot rupiah
Harga beli di investor
Harga spot rupiah
Harga beli di investor
Artinya, emas semakin mengukuhkan perannya sebagai pelindung nilai (hedging) terhadap inflasi, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian global.
Rekor harga emas di atas US$5.000 bukan sekadar euforia sesaat. Kombinasi geopolitik panas, potensi penurunan suku bunga, dan pembelian bank sentral membuat prospek emas jangka menengah–panjang masih menarik. Dengan proyeksi ekstrem hingga US$10.000 per ons, emas kian relevan sebagai instrumen diversifikasi portofolio investor Indonesia.
Apakah sekarang masih terlambat beli emas?
Emas cocok untuk strategi jangka panjang dan lindung nilai, bukan sekadar trading jangka pendek.
Lebih untung emas digital atau emas batangan?
Emas digital umumnya berpremi lebih rendah, sementara emas batangan unggul untuk kepemilikan fisik jangka panjang.
Risiko utama investasi emas apa?
Koreksi harga jangka pendek dan fluktuasi kurs, terutama jika rupiah menguat tajam.
Porsi ideal emas di portofolio berapa?
Umumnya 5–15%, tergantung profil risiko dan tujuan investasi.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(AM)
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.