
Bareksa - Harga emas dunia kembali mencetak rekor dengan menembus US$4.600 per ons di awal 2026.
Mengutip Kitco News, harga emas bahkan sempat menyentuh kisaran US$4.630 secara intraday (12/1/2026), menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH).
Kenaikan ini terjadi sangat cepat dan membuat emas kembali menjadi sorotan utama investor global, terutama di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi dunia.
Sumber: Investing
Menurut World Gold Council (WGC), lonjakan emas kali ini bukan sekadar euforia jangka pendek. Dalam laporan Weekly Markets Monitor, WGC menilai bahwa meningkatnya frekuensi gejolak geopolitik membuat risiko global “menetap” di pasar, sehingga emas mendapatkan tambahan premi risiko.
Selain itu, sentimen politik Amerika Serikat juga menjadi pemicu penting. Tekanan dan ancaman hukum dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap independensi Federal Reserve menimbulkan kekhawatiran bahwa kebijakan suku bunga bisa dipengaruhi kepentingan politik.
Kondisi ini mendorong investor mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan beralih ke emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). WGC menegaskan, dalam dunia yang semakin tidak pasti, alokasi strategis ke emas tetap relevan untuk menjaga daya tahan portofolio.
Meski sudah menembus US$4.600, World Gold Council menilai emas belum berada di area jenuh beli ekstrem (overbought).
Secara teknikal, WGC menyebut batas overbought kuat baru berada di sekitar US$4.770 per ons.
Artinya, kenaikan emas masih berada dalam tren utama yang sehat, meskipun potensi koreksi jangka pendek tetap ada.
Proyeksi harga emas menuju US$5.000 per ons pada semester I 2026 disampaikan secara eksplisit oleh Nick Cawley, Market Analyst dari Solomon Global.
Menurut Cawley, kombinasi beberapa faktor besar masih akan menopang harga emas, antara lain:
Dia menilai selama kondisi ini berlanjut, tren naik emas masih sangat sulit dihentikan, dan setiap koreksi harga justru berpotensi menjadi peluang beli bagi investor jangka panjang.
Lonjakan harga emas di atas US$4.600 per ons bukan sekadar reaksi sesaat. World Gold Council menilai tren emas masih solid dan belum overbought, sementara Solomon Global memproyeksikan emas berpeluang menembus US$5.000 per ons pada semester I 2026.
Di tengah tekanan politik, ketidakpastian global, dan meningkatnya risiko sistemik, emas kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai instrumen cuan, tetapi juga pelindung nilai utama di era ketidakpastian.
Bareksa merupakan pioneer aplikasi investasi emas yang praktis dan aman untuk membeli serta menyimpan emas secara digital. Kamu bisa memantau harga emas harian, melihat tren, dan menentukan waktu beli terbaik langsung dari aplikasi. Selain emas, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan saham, sehingga kamu bisa mengatur strategi investasi dalam satu super app berizin OJK sejak 2016.
(AM)
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Fitur Bareksa Emas dikelola oleh PT Bareksa Inovasi Digital, bekerja sama dengan Mitra Emas berizin.