Dana Asing Keluar Bursa Saham US$1,1 Miliar, Indonesia yang Terburuk?

Bareksa • 05 May 2020

an image
Warga mengamati layar yang menampilkan infornasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/3/2020). BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan ('trading halt') pada sistem perdagangan di bursa efek pada Kamis (12/3) pukul 15.33 WIB karena dipicu penurunan IHSG hingga 5,1 persen. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Aliran dana ke pasar negara berkembang secara umum menurun drastis

Bareksa.com - Pandemi virus corona Covid-19 tidak hanya menekan sektor kesehatan tetapi ekonomi secara global. Bursa saham yang menjadi cerminan perekonomian nasional juga telah ditinggalkan oleh sebagian investor asing.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam paparannya di Rapat Kerja Komisis XI DPR RI secara online, terdapat pembalikan modal (capital outflow) dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Mengutip Emerging Capital Flow Proxy Index yang merupakan komposit indeks untuk mengukur aliran dana ke pasar negara berkembang, Menkeu melihat telah terjadi penurunan indeks secara signifikan. Artinya, aliran dana ke pasar negara berkembang secara umum menurun drastis.

"Mulai pertengahan Februari 2020, indeks bergerak menurun secara drastis. Dengan kata lain, terdapat outflow cukup signifikan," ujarnya dalam rapat kerja yang disiarkan online melalui live streaming di Youtube, 29 April 2020.

Berdasarkan catatan Menkeu, arus modal pasar keuangan Indonesia baik di saham, Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Bank Indonesia (SBI) dari 1 Januari hingga 23 April 2020 mencapai negatif Rp159,6 triliun. Artinya arus modal mengalir keluar dari pasar keuangan Indonesia sepanjang tahun berjalan, dibandingkan dengan arus masuk Rp221,0 triliun pada 2019.

Sumber: Paparan Menkeu

Secara lebih rinci, Otoritas Jasa Keuangan mencatat investor asing telah membukukan jual bersih (net sell) sejak awal tahun hingga 29 April 2020 di pasar saham mencapai Rp19,56 triliun. Secara year to date (YTD) hingga 28 April 2020, net sell asing di pasar obligasi sudah mencapai Rp139,58 triliun.

Riset dari Batavia Prosperindo Aset Manajemen tanggal 27 April 2020 juga mencatat bahwa keluarnya dana asing juga terjadi negara-negara emerging market Asia, kecuali China dan Hong Kong.

Secara YTD hingga 23 April 2020, net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai US$1,11 miliar. Akan tetapi, nilai dana asing yang keluar dari Indonesia bukanlah yang paling besar.

Menurut riset BPAM, investor asing paling besar keluar dari Taiwan senilai US$17,53 miliar, kemudian disusul Korea dengan nilai net sell US$17,49 miliar.

Grafik Dana Asing Keluar dari Bursa Saham Emerging Market Asia

Sumber: Riset BPAM, diolah Bareksa

Total dana asing keluar dari negara emerging market Asia di luar China mencapai US$51,57 miliar. Bahkan, negara maju seperti Jepang dan Singapura, juga mengalami net sell asing.

Riset BPAM, yang mengambil sumber dari berbagai bursa global, mencatat hanya Bursa Hong Kong dan China yang membukukan pembelian bersih (net buy) investor asing sebesar masing-masing US$31,65 miliar dan US$3,5 miliar.

Keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia tentu memberikan dampak baik bagi harga saham, imbal hasil obligasi, dan nilai tukar rupiah.

Grafik Arus Dana Asing dan IHSG

Sumber: Bareksa

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang menjadi acuan pasar modal Indonesia, tercatat turun 27,08 persen secara YTD dan ditutup di level 4.593,55 pada 23 April 2020.

IHSG menjadi acuan bagi pasar modal Indonesia, termasuk reksadana saham dan reksadana indeks. IHSG yang turun bisa membuat valuasi saham-saham yang berada di dalamnya terlihat murah.

Maka, investor dengan tujuan jangka panjang bisa menggunakan momen ini untuk membeli reksadana saham atau reksadana indeks saham. Dengan memperhatikan cashflow, kualitas, dan jangka waktu, investor bisa memanfaatkan momen ini.

Akan tetapi, perlu diingat ada risiko ketidakpastian kapan pasar akan kembali bangkit. Sehingga, reksadana saham disarankan untuk investor dengan profil risiko agresif yang bisa menerima risiko tinggi (risk taker) serta untuk investasi jangka panjang (di atas lima tahun).

Sebagai informasi, reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola oleh manajer investasi untuk dimasukkan ke dalam aset-aset keuangan. Adapun reksadana saham mayoritas portofolionya adalah saham, yang berisiko fluktuatif dalam jangka pendek tetapi berpotensi imbal hasil tinggi dalam jangka panjang.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.