Top 5 MI Dana Kelolaan Terbesar, Ini Produknya di Bareksa

Bareksa • 12 Dec 2019

an image
Ilustrasi investasi reksadana saham obligasi surat utang negara menguntungkan yang digambarkan dengan tumpukan koin dan sejumlah figur orang mainan seperti investor pebisnis pengusaha

Batavia Prosperindo kembali merebut posisi pertama AUM reksadana ditawarkan untuk publik

Bareksa.com - Posisi dua teratas dalam dana kelolaan industri manajemen investasi Tanah Air kembali mengalami sedikit perubahan posisi per November 2019. Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa perusahaan sering kali salip-menyalip dalam hal total dana kelolaan (asset under management/AUM) terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), posisi teratas perusahaan manajemen aset dengan AUM terbesar untuk reksadana yang ditawarkan pada publik periode November 2019 ditempati oleh PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen atau Batavia Prosperindo dengan AUM Rp45,85 triliun.

Sementara peringkat kedua ditempati oleh PT Mandiri Manajemen Investasi atau MMI dengan AUM Rp43,80 triliun, yang turun satu peringkat dari puncak teratas yang diraih pada periode Oktober.

Adapun selebihnya di peringkat ketiga, keempat, dan kelima tidak mengalami perubahan.  Ada PT Bahana TCW Investment Management atau Bahana dengan AUM Rp42,22 triliun, lalu PT Schroder Investment Management Indonesia atau Schroders Indonesia dengan AUM Rp40,16 triliun, serta PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dengan dana kelolaan Rp30,79 triliun.

Sebagai informasi, Batavia Prosperindo berhasil kembali merebut tahta perusahaan aset manajemen dengan AUM tertinggi periode November 2019 dikarenakan dana kelolaannya yang berhasil melonjak Rp1,60 triliun pada bulan lalu. Sementara itu di saat yang bersamaan, juara AUM pada periode Oktober 2019 yakni MMI justru mencatatkan penurunan AUM Rp709,61 miliar.

1. PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen berdiri pada 1996, berdasarkan izin dari Bapepam-LK No. KEP-03/PM/MI/1996. Sebelumnya perusahaan bernama PT Bira Aset Manajemen hingga diakuisisi oleh PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen. Perusahaan mengelola portofolio berbagai produk reksadana dan kontrak pengelolaan dana bilateral.

Produk Batavia Prosperindo yang dijual di Bareksa

Sumber: Bareksa

Per November 2019, perusahaan yang berkantor pusat di Chase Plaza Lt. 12, Jalan Jend. Sudirman Kav. 21 ini mengelola 134 produk reksadana, yang 6 di antaranya dijual di Bareksa.

 

2. PT Mandiri Manajemen Investasi

PT Mandiri Manajemen Investasi atau yang lebih dikenal sebagai Mandiri Investasi didirikan pada Desember 2004 setelah memisahkan diri (spin-off) dari PT Mandiri Sekuritas.

Mandiri Investasi, yang merupakan bagian dari grup PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), adalah salah satu manajer investasi nasional terbesar yang berpengalaman di bidang pengelolaan portofolio investasi sejak 1993.

Produk MMI yang dijual di Bareksa

Sumber: Bareksa

Per November 2019, perusahaan yang berkantor pusat di Plaza Mandiri Lt. 29, Jalan Jend. Gatot Subroto Kav.36-38 ini mengelola 147 produk reksadana, yang 9 di antaranya juga dijual melalui Bareksa.

 

3. PT Bahana TCW Investment Management

PT Bahana TCW Investment Management didirikan pada 1994 dan merupakan perusahaan manajemen investasi yang telah mendapatkan izin Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) di tahun 1995. Bahana TCW telah memiliki izin usaha sebagai MI berdasarkan Kep-06/PM/MI/1994 Tanggal 21 Juni 1994.

Produk Bahana yang dijual di Bareksa

Sumber: Bareksa

Per November 2019, perusahaan yang berkantor pusat di Graha Niaga Lt. 21, Jalan Jend. Sudirman Kav. 58 ini mengelola 124 produk reksadana, yang 9 di antaranya juga dijual di Bareksa.

 

4. PT Schroder Investment Management Indonesia

Schroders hadir sejak tahun 1991. PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders Indonesia) merupakan manajer investasi yang 99 persen persen sahamnya dimiliki oleh Schroders Plc dan telah menerima izin manajer investasi dari Otoritas Jasa Keuangan/OJK (d/h BAPEPAM-LK) No. KEP-04/PM/MI/1997 tertanggal 25 April 1997.

Produk Schroders Indonesia yang dijual di Bareksa

Sumber: Bareksa

Per November 2019, perusahaan yang berkantor pusat di Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1, 30th Floor Jalan Jend. Sudirman Kav 52-53 Jakarta ini mengelola 30 produk reksadana, yang 14 di antaranya juga dijual di Bareksa.

 

5. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”) merupakan salah satu perusahaan manajemen investasi terbesar di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1996. MAMI adalah bagian dari Manulife Asset Management, perusahaan manajemen investasi global grup Manulife yang menawarkan beragam jasa manajemen investasi dan reksa dana di Indonesia.

Produk MAMI yang dijual di Bareksa

Sumber : Bareksa

Per November 2019, perusahaan yang berkantor pusat di Sampoerna Strategic Square South Tower Lt. 31, Jalan Jend. Sudirman Kav. 45-46, Jakarta Selatan ini mengelola 27 produk reksadana, yang 14 produk di antaranya dijual di Bareksa.

Sementara itu, industri reksadana di Indonesia secara keseluruhan mengalami sedikit koreksi pada November 2019. AUM industri reksadana tercatat Rp544,42 triliun per November 2019, atau turun 1,60 persen dibandingkan bulan Oktober 2019 yang sebesar Rp553,21 triliun.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/hm)

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.