Laba BBCA 2018 Naik 10,9 Persen Jadi Rp25,9 Triliun, Ini Penopangnya

Bareksa • 01 Mar 2019

an image
Ilustrasi pekerja membersihkan tanda nama di depan Menara BCA milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Pendapatan operasional tumbuh 10,6 persen, pendapatan bunga bersih tumbuh 8,3 persen

Bareksa.com - PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) dan entitas anak menutup tahun 2018 dengan pertumbuhan laba bersih 10,9 persen menjadi Rp25,9 triliun dibandingkan Rp23,3 triliun pada tahun 2017.

Pendapatan operasional yang terdiri dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya, tumbuh 10,6 persen menjadi Rp63 triliun pada 2018 dibandingkan Rp57 triliun pada tahun 2017. Pendapatan bunga bersih meningkat 8,3 persen menjadi Rp45,3 triliun, sementara pendapatan operasional lainnya tumbuh 17 persen menjadi Rp17,7 triliun pada 2018.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyampaikan BCA dan entitas anak mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang positif pada 2018 di tengah kondisi likuiditas sektor perbankan yang mengetat dan tren kenaikan suku bunga.

"Posisi likuiditas BCA didukung oleh dana CASA yang solid, berkat pengembangan berkelanjutan franchise perbankan transaksi. Kami menekankan kehati-hatian dalam penyaluran kredit dalam meraih peluang-peluang dari permintaan kredit yang lebih tinggi selama tahun 2018," ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima Bareksa, Jumat (1/3).

Pada 2018 portofolio kredit meningkat 15,1 persen menjadi Rp538 triliun, didukung oleh tingginya kebutuhan kredit usaha. Kredit korporasi tumbuh 20,4 persen menjadi Rp213,3 triliun pada akhir tahun 2018.

Kredit komersial dan UKM meningkat 13,4 persen menjadi Rp183,8 triliun. BCA mencatat pertumbuhan kredit usaha yang lebih tinggi, baik pada kredit investasi maupun modal kerja. Meskipun dihadapkan pada peningkatan suku bunga, kredit konsumer tumbuh 9,7 persen menjadi Rp140,8 triliun.

Pada segmen konsumer, KPR tumbuh 12 persen menjadi Rp87,9 triliun dan KKB meningkat 4,4 persen menjadi Rp40 triliun di tahun 2018.

Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit tumbuh 11,8 persen menjadi Rp12,9 triliun. Rasio keuangan utama tetap solid pada akhir 2018. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat pada level 1,4 persen, berada dalam tingkat toleransi risiko yang masih dapat diterima.

Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss coverage) tercatat pada level yang memadai sebesar 178,7 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) tercatat pada level yang sehat masing-masing 23,4 persen dan 81,6 persen.

Dana giro dan tabungan (CASA) tetap menjadi pendanaan inti Bank. Pada akhir tahun 2018, CASA berkontribusi 76,7 persen terhadap total dana pihak ketiga dengan nilai Rp483 triliun. Dalam komposisi CASA, dana giro tumbuh 10,3 persen menjadi Rp166,8 triliun dan dana tabungan meningkat 8,1 persen menjadi Rp316,2 triliun. Total dana pihak ketiga tercatat Rp629,8 triliun, tumbuh 8,4 persen.

“Kami perlu beradaptasi di tengah lingkungan bisnis yang dinamis dan pesatnya pertumbuhan institusi-institusi keuangan non-bank berbasis teknologi. BCA terus mengembangkan produk dan layanan dengan memanfaatkan teknologi digital serta tetap melakukan investasi pada jaringan elektronik dan kantor cabang. Produk dan layanan digital memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kepuasan nasabah," ujar Jahja.

(AM)