Jelang Rilis Data NPI, IHSG Berpotensi Lanjutkan Pelemahan

Bareksa • 08 Feb 2019

an image
Logo of Bank Indonesia is seen at a Bank Indonesia building in Jakarta. REUTERS/Garry Lotulung

Defisit neraca dagang berpotensi di atas 3 persen terhadap PDB

Bareksa.com - Mengawali perdagangan dengan dibuka positif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin harus mengakhiri perdagangan dengan koreksi tipis yakni sebesar 0,17 persen ke level 6.536. Pada pagi ini, Jumat, 8 Februari 2019 pukul 09.40 WIB, IHSG melemah 0,26 persen di level 6.519.

IHSG mampu menguat pada awal perdagangan karena masih terpengaruh sentimen positif data pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu yang tumbuh 5,17 persen. Angka PDB tersebut lebih baik dari konsensus pasar 5,15 persen.

Sektor pertanian (-0,93 persen) dan industri dasar dan kimia (-0,84 persen) mendorong pelemahan IHSG. IHSG melemah menyusul rilis data cadangan devisa Indonesia yang turun US$600 juta menjadi US$120,1 miliar pada Januari 2019, dari US$120,7 miliar pada akhir Desember 2018.

IHSG melemah di tengah fluktuasi Bursa Saham Asia seiring investor menantikan pertemuan pembicaraan tarif AS - China pada pekan depan. Asing mencatatkan net buy Rp327.83 miliar.

Sedangkan di Amerika Serikat, Indeks Dow Jones Industrial Average (-0.87%), Indeks S&P 500 (-0.94%) dan Nasdaq Composite (-1.18%) masing-masing mencatatkan pelemahan.

Bursa saham Wall Street melemah di tengah kekhawatiran AS dan China tidak akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan dengan sisa waktu kurang dari satu bulan.

Hal ini juga menambah kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global. Perkiraan kinerja keuangan yang mengecewakan dari beberapa perusahaan AS, termasuk Twitter Inc, juga membuat investor menahan posisi.

Secara pergerakan, IHSG berpotensi bergerak antara 6.475 hingga 6.550. Pelaku pasar patut mencermati rilis data neraca pembayaran indonesia (NPI) dan penjualan eceran (retail sales) yang rencananya akan diumumkan Bank Indonesia (BI) atau BPS pada hari ini.

Defisit Neraca Pembayaran Berpotensi Melampaui 3 Persen Terhadap PDB

Secara umum para pelaku pasar sudah siap akan rilisnya data neraca pembayaran yang diperkirakan mempunyai defisit lebih buruk dibanding tahun 2017.

Historical CAD to GDP 2009 – 2017

Sumber : Tradingeconomics.com

Current Account Deficit (CAD) di kuartal terakhir di bulan Oktober, November, dan Desember 2018 sedikit memberikan gambaran akan data yang akan dirilis hari ini.

Data Neraca Dagang Sepanjang 2018 (US$ Juta)

Sumber : Tradingeconomics.com

Current Account Deficit (CAD) di kuartal terakhir di bulan Oktober, November, dan Desember 2018 masing-masing mencatatkan defisit sebesar US$1,77 miliar, US$1,99 miliar, dan US$1,1 miliar.

Menurut analisis Bareksa, defisit CAD di kuartal IV 2018 berada di kisaran -3,0 s/d -3,1 persen terhadap GDP secara year on year.

Sekedar informasi, CAD merupakan salah satu variabel dalam pembentukan output Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Selain CAD, terdapat transaksi modal, transaksi finansial yang meliputi investasi langsung, investasi portfolio, dan investasi lainnya, serta cadangan devisa dan yang terkait.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut