Angka Pengangguran AS Kembali Naik jadi 4 Persen, Dolar Berpotensi Melemah

Bareksa • 04 Feb 2019

an image
Ilustrasi tumpukan uang asing dolar AS, euro dalam bentuk kertas dan koin.

Rupiah berpeluang lanjutkan penguatan

Bareksa.com - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah setelah laporan tenaga kerja AS pada Januari 2019 menunjukkan penurunan. Hal ini meredam peluang Federal Reserve dalam menaikan suku bunga lebih lanjut.

Di luar perolehan pekerjaan utama, dolar menjadi lebih sensitif terhadap inflasi upah selama setahun terakhir. Laporan tersebut juga menunjukkan ekonomi AS menciptakan 304.000 pekerjaan baru, tertinggi dalam 11 bulan, melampaui perkiraan 165.000 pekerjaan. Namun demikian, tingkat pengangguran, naik ke level tertinggi 7 bulan atau 4 persen di Januari 2019.

Historical Unemployment US (%)

Sumber : Tradingeconomics.com

Sebelumnya, Gubernur The Fed Jerome Powell pada Rabu pekan lalu mengatakan peluang kenaikan suku bunga melemah, dan pihaknya hanya memperkirakan sekitar satu dari tiga peluang penaikan suku bunga.

Tetapi setelah data pekerjaan, trader mengurangi taruhan penurunan suku bunga, meskipun mereka terus bertaruh terhadap kenaikan suku bunga.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan, indeks dolar AS (DXY) menguat tipis 0,05 persen menjadi 95,61. Dolar diperkirakan akan melemah tahun ini karena Federal Reserve berubah menjadi lebih berhati-hati tentang kenaikan suku bunga.

Rupiah Berpotensi Melanjutkan Penguatan

Kinerja pergerakan mata uang rupiah patut diancungi jempol. Pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (1/2/2019), di saat reli penguatan mata uang asia berakhir, rupiah masih bertengger di zona hijau.

Menurut analisis Bareksa, apresiasi rupiah pada pekan ini ditopang oleh respons positif investor terhadap kerja sama dan konsistensi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia dengan beragam instrumen keuangan seperti DNDF dan peraturan devisa hasil ekspor atau DHE.

Selain itu, hingga pertengahan Januari, capital inflow dalam negeri tercatat mencapai Rp14,75 triliun, sehingga ketersediaan dolar Amerika Serikat diharapkan mampu memperkecil defisit transaksi berjalan Indonesia.

Katalis positif juga datang dari rilis data inflasi, di mana secara year on year tingkat inflasi pada Januari terjaga di level 2,82 persen.

Berdasarkan data Bareksa, pada penutupan perdagangan pekan ini, hanya rupiah dan ringgit Malaysia yang masih bergerak positif di saat reli penguatan bagi sebagian besar mata uang asia telah usai. Rupiah menguat 0,179 persen atau naik 25 poin menjadi Rp13.948 per dolar AS.

Dalam sepekan rupiah telah menguat 1,04 persen menduduki posisi kedua dalam penguatan mata uang di klasemen asia. Posisi pertama penguatan mata uang di klasemen Asia, diduduki oleh ringgit Malaysia yang telah menguat 1,22 persen sepanjang pekan menjadi 4,0953 ringgit per dolar AS.

Kendati demikian, secara umum pergerakan mata uang garuda masih dibayangi oleh beragam sentimen dan yang akan menyedot perhatian lebih adalah negosiasi dagang Amerika Serikat dan China, serta kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.

(KA02/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.