Di Bawah US$50 per Barel, Harga Minyak di Level Terendah dalam 1 Tahun

Bareksa • 18 Dec 2018

an image
Suasana kegiatan ekplorasi minyak bumi yang dilakukan PT Saka Energi Indonesia di Blok Pangkah, Gresik, Jawa Timur, Jumat (31/8). PT Saka Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). ANTARA FOTO/Moch Asim

Penurunan harga minyak disebabkan oleh adanya kekhawatiran akan kelebihan pasokan AS

Bareksacom -  Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berakhir di bawah level US$50 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun pada perdagangan Senin (17/12/2018), di tengah meningkatnya kekhawatiran kelebihan pasokan.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari ditutup turun US$1,8 di level US$49,4 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kondisi bearish berlanjut setelah penutupan dengan harga WTI turun ke US$49,01 per barel, level terendah sejak September 2017. Adapun minyak WTI kontrak Februari turun ke level US$49,47 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Februari ditutup turun 67 sen di level US$59,61 per barel di ICE Futures Europe exchange di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$9,41 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Historikal Harga Minyak Dunia 1 Tahun Terakhir

Sumber : Bareksa.com

Penurunan ini dimulai setelah penyedia data Genscape Inc. dikabarkan melaporkan peningkatan stok di pusat penyimpanan terbesar Amerika dan semakin intensif setelah Departemen Energi AS memproyeksikan output yang lebih tinggi dalam minyak shale AS.

Harga minyak berada di jalur untuk penurunan bulanan ketiga berturut-turut terlepas dari upaya oleh OPEC, Rusia, dan eksportir utama lainnya untuk menghentikan penurunan harga.

“Harga minyak mentah telah menyusut mendekati level US$50 dalam beberapa pekan terakhir tetapi selalu rebound. Melintasi ambang batas itu adalah hal yang “signifikan”,” kata Michael Loewen, pakar strategi komoditas di Scotiabank, Toronto, seperti dilansir Bloomberg.

"Kita mungkin akan melihat perlambatan pasokan di AS. Saya pikir produsen akan bereaksi.”

Menurut Pavel Molchanov, analis Raymond James & Associates Inc., biasanya diperlukan waktu sekitar enam pekan bagi negara-negara OPEC untuk menerapkan perubahan pasokan. Sementara itu Arab Saudi, produsen terbesar di kelompok itu, menghadapi tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump untuk menjaga agar produksi tetap terbuka.

“Selalu ada tanda tanya sejauh mana negara-negara OPEC dan Rusia akan atau tidak akan memenuhi janji mereka. Secara alami ada skeptisisme,” ujar Molchanov.

Penurunan tajam pada bursa saham AS menambah tekanan terhadap minyak pada perdagangan Senin. Indeks S&P 500 mencapai level terendahnya dalam 14 bulan karena investor mengantisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang dapat memperlambat ekonomi. (Baca Juga : Jelang Pertemuan The Fed, IHSG dan Bursa Asia akan Tertekan).

(AM)