Berita Hari Ini : Dividen Interim MAYA Batal, Prajogo Jual Sebagian Saham BRPT

Bareksa • 13 Dec 2018

an image
Produk pipa milik PT Bakrie Pipe Industries, anak usaha dari PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR). Sumber: Bakrie Pipe Industries

BNBR konversi utang jadi saham, AGII bidik pendapatan naik 12 persen, SKRN optimistis pendapatan Rp600 miliar

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis, 13 Desember 2018 :

PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA)

Pembagian dividen interim perseroan yang sebelumnya direncanakan pada hari ini harus dibatalkan. Sebagai informasi, total dividen interim yang batal dibagikan oleh perseroan sebesar Rp223,19 miliar atau Rp35 per saham.

Direktur Bank Mayapada Internasional Rudy Mulyono mengatakan, pembatalan pembagian dividen interim ini diputuskan dalam rapat direksi. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek penguatan struktur permodalan untuk mendukung ekspansi usaha di periode mendatang.

Rencana pembagian dividen interim Bank Mayapada Internasional sudah diumumkan sejak pertengahan bulan lalu. Masa akhir periode perdagangan saham MAYA dengan hak dividen atau cum dividen di pasar reguler dan negosiasi sudah berakhir pada 16 November lalu.

Adapun cum dividen di pasar tunai telah berakhir pada 22 November atau bersamaan dengan pencatatan daftar pemegang saham yang berhak atas dividen interim atau recording date.

PT Barito Pasific Tbk (BRPT)

Prajogo Pangestu selaku Komisaris Utama perseroan melepas saham ke publik. Tujuannya, disebutkan untuk menambah saham free float di bursa. Menurut Direktur BRPT Andry Setiawan transaksi dilakukan pada 4 Desember 2018 dengan melepas sebanyak 800 juta lembar juta saham atau setara dengan 4,497 persen dari jumlah seluruh saham yang telah dikeluarkan perseroan. Adapun harga penjualan Rp 1.720 per saham.

Dengan demikian, Prajogo Pangestu akan mengantongi dana Rp1,37 triliun dari penjualan ini.

Untuk diketahui, sebelum transaksi kepemilikan saham Prajogo 13,82 miliar lembar saham atau setara 77,69 persen dari jumlah seluruh saham yang telah dikeluarkan perseroan dan setelah transaksi mengalami perubahan 73,19 persen dari jumlah seluruh saham yang telah dikeluarkan perseroan.

Dari laporan kepemilikan saham perusahaan, hanya Prajogo yang memiliki kepemilikan saham di atas 5 persen. Sedangkan kepemilikan saham publik sekitar 22,3 persen.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)

Rencana perseroan melakukan restrukturisasi utang dengan mengonversi konversi utang menjadi saham bisa dipastikan akan rampung pada akhir tahun 2018 ini. Pasalnya Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah memberikan lampu hijau aksi korporasi tersebut.

Direktur Keuangan BNBR Amri Aswono Putro mengatakan per 4 Desember 2018 lalu BEI telah menyetujui pencatatan saham tambahan BNBR sebanyak 8,6 miliar saham dan pra pencatatan saham BNBR dari obligasi wajib konversi (OWK) 137 miliar saham.

“Dengan persetujuan BEI tersebut, konversi utang BNBR sebesar Rp9,3 triliun sudah terlaksana. Pada laporan keuangan full year 2018 utang BNBR akan terkonversi menjadi ekuitas dan ekuitas menjadi positif,” ujar Amri seperti dikutip Kontan.

PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII)

Perseroan membidik pertumbuhan pendapatan 12 persen pada 2019 dengan mengandalkan kenaikan permintaan dan diversifi kasi pasar. Direktur Utama Aneka Gas Industri Rachmat Harsono, menyampaikan iklim bisnis gas industri masih penuh tantangan, seperti tren kenaikan suku bunga dan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kendati demikian, emiten berkode saham AGII tersebut memiliki basis konsumen yang sangat luas dengan pangsa pasar sekitar 27 persen secara nasional. Hal tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan kinerja perseroan pada 2019.

“Gas industri masih sangat dibutuhkan. Target kami pendapatan tahun depan bisa tumbuh dua kali PDB [produk domestik bruto] atau sampai 12 persen. Jika melebihi, berarti pangsa pasar kami growing,” ungkapnya.

PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN)

 Perseroan membukukan pendapatan senilai Rp550 miliar sepanjang Januari - November 2018 seiring dengan pertumbuhan penyewaan peralatan crane untuk sejumlah proyek.

Corporate Secretary Superkrane Mitra Utama Eddy Gunawin menuturkan bahwa penyewaan peralatan crane cenderung naik untuk proyek infrastruktur, konstruksi, dan pertambangan.

“Kinerja kami sesuai target, jadi akhir tahun nanti pencapaian [pendapatan] bisa mencapai Rp600 miliar,” tuturnya.

SKRN membidik laba bersih pada 2018 mencapai kisaran antara Rp100 miliar hingga Rp120 miliar. Adapun, pada 2019, perusahaan mengincar pendapatan Rp720 miliar dan laba bersih antara Rp120 miliar hingga Rp140 miliar.

Superkrane memiliki 205 unit crane serta peralatan lainnya 145 unit dengan total utilisasi 90 persen pada saat ini.

PT Mega Perintis Tbk (ZONE)

Emiten produsen dan distributor fesyen berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas produksi untuk merealisasikan target penjualan pada 2019. Saat ini, perusahaan memiliki satu pabrik yang terletak di kawasan Pemalang, Jawa Tengah, dengan kapasitas 2,4 juta pakaian per tahun. Utilisasi produksi telah mencapai 80 persen.

“Tahun depan kapasitas kami tambah 10 persen. Kami lakukan penambahan line produksi di lokasi yang sama untuk peningkatan kapasitas itu,” kata Direktur Utama PT Mega Perintis Tbk. Afat Adinata Nursalim.

Peningkatan kapasitas produksi itu merupakan salah satu langkah perseroan untuk menghadapi persaingan bisnis ke depan. Upaya lain adalah menambah jaringan penjualan.

(AM)