Selain Masuk Indeks MSCI, Kinerja PTBA hingga Kuartal III juga Cemerlang

Bareksa • 14 Nov 2018

an image
Alat-alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

PTBA berhasil mengantongi laba bersih Rp3,93 triliun pada kuartal III 2018, naik siginfikan 49,66 persen

Bareksa.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menorehkan capaian kinerja mengagumkan sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2018. Kondisi tersebut antara lain tercermin dari volume produksi yang meningkat 16,57 persen year on year (yoy), dari sebelumnya 16,9 metrik ton pada kuartal III 2017, menjadi 19,7 metrik ton pada kuartal III 2018.


Sumber: Laporan Presentasi Perseroan

Di sisi lain, PTBA juga berhasil meningkatkan volume penjualan 8,14 persen yoy, dari sebelumnya 17,2 metrik ton pada sembulan bulan pertama 2017, menjadi 18,6 metrik ton pada periode yang sama tahun ini.

Dengan volume penjualan yang meningkat, PTBA berhasil membukukan pendapatan Rp16,04 triliun hingga kuartal III 2018, meningkat 20,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp13,29 triliun.


Sumber: Laporan Presentasi Perseroan

Pendapatan terbesar PTBA diperoleh dari penjualan batu bara ekspor 52 persen dari total pendapatan. Sedangkan penjualan batu bara domestik menyumbang 46 persen, dan sisanya sekitar 2 persen merupakan pendapatan dari aktivitas usaha lainnya, yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Volume penjualan batu bara ekspor PTBA meningkat cukup signifikan sepanjang periode Januari hingga September 2018 yakni 19 persen YoY.

Hal tersebut merupakan salah satu strategi manajemen dalam memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan tentunya peningkatan permintaan batu bara baik dari China akibat kurangnya pasokan batu bara domestik selama musim panas yang ekstrim, India yang produksinya masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga adanya peningkatan demand untuk Korea Selatan.

Sekadar informasi, harga jual rata-rata batu bara PTBA periode Januari hingga September 2018 mengalami kenaikan 13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dari sebelumnya Rp745.755 per ton menjadi Rp841.655 per ton.

Didorong oleh solidnya pertumbuhan pada top line-nya, PTBA berhasil mengantongi laba bersih Rp3,93 triliun pada kuartal III 2018, naik siginfikan 49,66 persen dari sebelumnya Rp2,63 triliun di periode yang sama tahun lalu.


Sumber: Laporan Presentasi Perseroan

Di sisi lain, margin laba bersih PTBA juga meningkat hampir 5 persen, dari sebelumnya 19,8 persen pada kuartal III 2017, menjadi 24,5 persen pada kuartal III 2018.

Perseroan berencana akan mempertahankan dan terus meningkatan margin tersebut di sisa akhir tahun ini.

Didukung dengan kinerja keuangan yang baik, PTBA berhasil mewujudkan likuiditas yang semakin kokoh. Hal tersebut terlihat dari posisi kas dan setara kas yang meningkat 70 persen hingga mencapai Rp6,06 triliun, serta cashflow dari arus kas operasi akibat penerimaan dari pelanggan meningkat 58 persen atau Rp6,48 triliun.

Harga Saham Menguat

Hingga penutupan sesi pertama perdagangan Rabu, 14 November 2018 saham PTBA tercatat melonjak 5,16 persen dengan ditutup pada level Rp4.890 per saham.

Sumber: Bareksa

Selain mendapatkan sentimen positif dari rilis laporan keuangannya, saham PTBA juga mendapat energi tambahan lain dengan masuknya saham emiten batu bara tersebut ke dalam indeks MSCI yang akan mulai berlaku efektif per 3 Desember 2018 mendatang.

Sekadar informasi, MSCI Index adalah indeks yang dibuat oleh Morgan Stanley Capital International untuk mengukur performa pasar di area tertentu.

Indeks bentukan MSCI ini seringkali menjadi tolok ukur alias benchmark bagi investor global dan juga fund manager global. Beberapa indeks MSCI yang seringkali berpengaruh pada pergerakan bursa Asia dan Indonesia antara lain MSCI The Emerging Markets Index dan MSCI Indonesia Index.

(AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.