Defisit Migas Sebabkan CAD Melebar Jadi 3,37 Persen di Kuartal III 2018

Bareksa • 12 Nov 2018

an image
Suasana Terminal Petikemas Surabaya, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/9). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat kinerja ekspor nonmigas Jatim pada Agustus 2015 meningkat 33,4 persen dibandingkan kinerja ekspor pada Juli 2015. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Neraca perdagangan untuk pertama kali dalam 3 tahun terakhir mencatatkan defisit

Bareksa.com - Bank Indonesia (BI) mengumumkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) pada triwulan III 2018 tercatat US$8,85 miliar. Angka ini setara dengan 3,37 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Namun, secara kumulatif defisit neraca transaksi berjalan hingga triwulan III 2018 tercatat 2,86 persen PDB sehingga masih berada dalam batas aman.

Apabila ditelusuri secara historis, defisit CAD kuartal III ini merupakan yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir, atau sejak kuartal II 2014.

Saat itu, CAD mencapai US$9,58 miliar, atau sekitar 4,26 persen dari PDB.

Historikal CAD terhadap PDB Indonesia

Sumber : Bank Indonesia

Penyebab melebarnya CAD di kuartal III 2018

Dari sisi perdagangan, CAD yang melebar banyak dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang dan peningkatan defisit neraca jasa.

Sumber : Bank Indonesia

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), neraca perdagangan untuk pertama kali dalam 3 tahun terakhir mencatatkan defisit US$398 juta pada kuartal III 2018, pasca selalu mencatatkan surplus sejak kuartal III 2016.

Memburuknya neraca perdagangan barang tidak lepas dari defisit perdagangan migas yang melebar menjadi US$3,53 miliar di kuartal II 2018, naik dari kuartal sebelumnya US$2,76 miliar.

Defisit perdagangan migas sebesar itu menjadi yang salah satu yang tertinggi dalam 3 tahun terakhir.

Harga minyak mentah jenis Brent memang melonjak 4,13 persen, di sepanjang kuartal III 2018. Bahkan, di akhir September 2018, harganya menembus level psikologis US$80 per barel.

Sebagai negara net importir, akhirnya Indonesia harus menanggung dampak negatif kenaikan harga sehingga sangat berdampak terhadap CAD di kuartal III.

Terlebih, nilai tukar rupiah juga terdepresiasi 4,01 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sepanjang kuartal III 2018. Pada awal September 2018, US$1 bahkan menca[ai Rp14.930. Hal ini lantas semakin menambah beban import migas.

(AM)