Ditopang Penguatan Rupiah, Saham KLBF Berpeluang Melonjak di Target Harga Ini

Bareksa • 08 Nov 2018

an image
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Vidjongtius (ketiga kiri) bersama Presiden Komisaris Irawati Setiady (tengah), Direktur Sie Djohan (kiri), Direktur Djonny Hartono (kedua kiri), Direktur Ongkie Tedjasurdja (ketiga kanan), Direktur Bujung Nugroho (kedua kanan), dan Direktur Independen Bernadus Karmin Winata (kanan). (Antara Foto)

Pada perdagangan Rabu, harga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) ditutup menguat 4,11 persen

Bareksa.com - Pada perdagangan Rabu, 7 November 2018, harga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) ditutup menguat 4,11 persen dengan berakhir di level Rp1.390 per saham. Saham KLBF ditransaksikan sebanyak 2.324 kali dengan nilai transaksi mencapai Rp29,36 miliar.

Berdasarkan aktivitas broker summary, anggota bursa yang menempati jajaran top buyer atau sebagai pembeli terbanyak saham KLBF pada perdagangan kemarin antara lain CLSA Sekuritas (KZ) dengan nilai pembelian Rp7,15 miliar, kemudian Mandiri Sekuritas (CC) Rp6,66 miliar, dan Credit Suisse Sekuritas (CS) Rp5,58 miliar.

Ketiga broker tersebut masing-masing berkontribusi terhadap nilai transaksi saham KLBF secara keseluruhan yaitu 24,35 persen, 22,68 persen, dan 19,01 persen.

Penguatan Rupiah Kerek Saham Farmasi

Melansir dari situs Reuters, pada perdagangan Rabu 7 November 2018 nilai tukar rupiah ditutup di level Rp14,565 per dolar AS, menguat tajam 1,61 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp14.803 per dolar AS.

Apresiasi rupiah menjadi sentimen positif bagi saham sektor farmasi, termasuk KLBF. Penguatan nilai tukar rupiah memang berpengaruh besar terhadap sektor farmasi. Maklum, sebagian besar bahan baku obat berasal dari impor.

Karena itu, penguatan rupiah akan membuat beban operasional dan beban produksi emiten farmasi berkurang sehingga berpotensi membuat laba bersihnya tumbuh lebih tinggi.

Ekspansi Pabrik, KLBF Incar Vietnam Hingga Filipina

Di sisi lain, secara fundamental Kalbe Farma tengah mempersiapkan ekspansi pabrik ke Asia Tenggara. Saat ini, tengah berjalan pembangunan pabrik di Myanmar.

Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan saat ini pabrik tersebut masih dalam tahap konstruksi. Dana untuk konstruksi disiapkan dari belanja modal 2018 sekitar Rp1,5 triliun.

Pembangunan pabrik di Myanmar dilakukan dengan skema joint venture dengan perusahaan distributor swasta. Produk yang diproduksi dan dipasarkan di sana utamanya adalah Mixagrip karena menjadi produk unggulan.

Vidjongtius memastikan Kabe Farma menguasai joint venture tersebut dengan porsi 90 persen.

Selain Myanmar, Kalbe Farma juga melirik Vietnam dan Filipina sebagai target ekspansi selanjutnya. Kalbe Farma juga sudah memiliki pabrik di Nigeria. Saat ini, pendapatan pasar dari dalam negeri sebesar 94 persen dan 6 persen dari luar negeri.

Vidjongtius menargetkan, dengan ekspansi yang ada, kontribusi pendapatan pasar dari luar negeri bisa naik menjadi 10 persen.

Analisis Teknikal Saham KLBF


Sumber: Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle saham KLBF pada perdagangan kemarin membentuk bullish candle dengan body yang besar serta terdapat short lower shadow.

Kondisi tersebut menggambarkan saham ini bergerak positif dalam rentang yang cukup lebar hingga mampu berakhir di level tertingginya, meskipun sempat bergerak dua tick di bawah level pembukaannya.

Volume perdagangan terlihat mengalami peningkatan dibandingkan hari sebelumnya menandakan adanya akumulasi beli serta partisipasi yang meningkat dari para pelaku pasar.

Selain itu, indikator relative strength index (RSI) saham KLBF terpantau mulai bergerak naik mengindikasikan sinyal kenaikan yang cukup kuat dengan resisten terdekat berada di level Rp1.470 per saham.

(AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.