Berita Hari Ini : UNTR Kebut Akuisisi Martabe, PPRE Yakin Pendapatan Rp4,9 T

Bareksa • 28 Aug 2018

an image
Alat berat milik United Tractors. (company)

SRIL target penjualan US$1 miliar, WIKA pebesar investasi di properti, IPO Medco Power di 2020

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat, 28 Agustus 2018 :

PT United Tractors Tbk (UNTR)

Perseroan menargetkan dapat merampungkan akuisisi 95 persen saham PT Agincourt Resources di tambang Martabe dalam 4-5 bulan ke depan, atau paling lambat pada Januari 2019.

Chief Financial Officer United Tractors Iwan Hadianto menyampaikan perseroan sepakat mengakuisisi tambang Martabe yang terletak di Sumatra Utara tersebut dengan nilai sebesar US$1,14 miliar atau 95 persen dari total enterprise value US$1,2 miliar.

“Untuk pendanaan tambang Martabe, kami menggunakan dari kas internal. Balance sheet kami pada posisi yang cukup kuat, dengan konsolidasi kas Rp25 triliun. Ada fundraising dari bank, tetapi sifatnya untuk standby purpose saja,” ungkap Iwan.

Iwan menjelaskan tambang Martabe tersebut membukukan laba bersih US$150 juta tahun lalu dengan produksi emas 350.000 ounces.

PT PP Presisi Tbk (PPRE)

Perseroan yakin bisa merealiasi target pendapatan Rp4,9 triliun pada akhir tahun ini. Pada semester I 2018 pendapatan tercatat Rp1,33 triliun, atau 27 persen dari target, hal yang wajar pada industri konstruksi yang memiliki siklus pendapatan yang membesar di kuartal keempat.

Direktur Keuangan PPRE Benny Pidakso mengatakan pendapatan perseroan tumbuh 360 persen dari Semester I 2017, menjadi Rp1,33 triliun dari sebelumnya Rp290 miliar.

Pertumbuhan ini tertinggi dibandingkan emiten konstruksi lainnya, termasuk pemegang saham mayoritasnya, PT PP (Persero) Tbk maupun BUMN Konstruksi lainnya. Segmen pendapatan yang berkontribusi paling besar adalah pekerjaan sipil 76 persen dari total pendapatan. Sementara itu laba bersih tumbuh 418 persen menjadi Rp146,13 miliar dari sebelumnya Rp28,17 miliar.

"Dengan pencapaian kinerja keuangan perseroan yang sangat baik, tentunya ini menguntungkan bagi investor kami," ujar Benny.

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL)

Perusahaan yang biasa dikenal dengan nama Sritex menargetkan penjualan menembus US$1 miliar pada akhir tahun ini. Target tersebut naik 35 persen dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severinno optimistis bisa mencapai target, lantaran hingga semester pertama penjualan kotor sudah menyentuh US$ 544 juta.

Realisasi penjualan emiten tekstil ini sudah naik 35,6 persen ketimbang Juni 2017. Pertumbuhan penjualan didukung strategi Sritex menggenjot kapasitas produksi. Seperti diketahui, SRIL telah mengakuisisi dua perusahaan pemintalan benang, yaitu PT Primayuhda Mandirijaya dan PT Bitratex Industries.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)

Perseroan semakin memperbesar porsi belanja modal untuk pengembangan bisnis properti pada periode 2018 - 2019.

Direktur Human Capital dan Pengembangan Wijaya Karya, Novel Arsyad, menjelaskan saat ini perseroan menggulirkan investasi besar di lini bisnis properti. Dari total alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) pada tahun ini senilai Rp15,85 triliun, separuhnya atau 50 persen digunakan untuk pengembangan sektor properti.

“[Untuk tahun ini] paling besar investasi di properti, 30 persen untuk energi dan 20 persen untuk infrastruktur,” jelasnya.

Novel mengatakan komposisi serupa masih dipertahankan untuk periode 2019. Artinya, emiten berkode saham WIKA itu masih mengalokasikan dana capex terbesar untuk sektor properti.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Perseroan berencana untuk melepas anak usahanya yakni Medco Power ke publik. Meski demikian, detail rencana tersebut masih belum mau disebutkan oleh direksi MEDC.

Chief of Human Capital MEDC Amri Siahaan mengungkapkan rencana initial public offering (IPO) Medco Power kemungkinan besar akan dilaksanakan tahun 2020 mendatang, tergantung dari pasar.

Medco Power saat ini tengah berusaha menggarap beberapa proyek yang menjadi andalannya, salah satunya adalah proyek IPP 275 Megawatt (MW) yang berada di Riau. Usai menuntaskan proyek Riau ini, barulah Medco Power akan melantai di bursa.

Sebelumnya, Medco Power sudah mencari pendanaan melalui penerbitan obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp1,2 triliun yang digunakan untuk manajemen kas serta pembayaran utang anak perusahaan.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)

Perseroan akan menggencarkan proses renegosiasi terhadap enam kontrak sewa pesawat dalam 6 bulan hingga 12 bulan mendatang.

Mengutip Bisnis Indonesia, Direktur Utama Garuda Pahala N. Mansury mengatakan proses renegosiasi akan dilakukan terhadap perusahaan pembiayaan (lessor) dan pabrikan. Sejak awal tahun, proses renegosiasi juga sudah dilakukan secara komersial.

“Melalui renegosiasi, kami harus bisa mencari ruang yang pihak mereka bisa terima agar mau menurunkan biaya sewa. Jalan yang ditempuh adalah melalui renegosiasi komersial,” ujarnya.

Dia menegaskan biaya sewa yang tinggi sangat membebani biaya keseluruhan maskapai, di samping biaya bahan bakar dan biaya lain-lain. Pahala memperkirakan keberhasilan renegosiasi kontrak sewa pesawat bisa mereduksi biaya hingga 10 - 15 persen.

(AM)