Berita Hari Ini : WSBP Pangkas Target Kontrak Baru, PALM Ekspansi Bisnis Emas

Bareksa • 14 Aug 2018

an image
Pekerja memperbaiki "launcher gantry" proyek pembangunan kontruksi jalur rel dwi ganda atau "double-dobel track (DDT)" yang roboh di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (5/3). Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menargetkan penyelesaian pembangunan proyek infrastruktur jalur DDT Manggarai- Cikarang selesai pada 2020. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Cina dan AS akan investasi pabrik baterai lithium, 6 wilayah kerja migas dilelang, NPL bank-bank Cina meningkat

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 14 Agustus 2018 :

PT Provident Agro Tbk (PALM)

PT Provident Agro Tbk (PALM) menyiapkan dana Rp600 miliar untuk menyerap saham baru yang akan diterbitkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Merdeka Copper Gold rencananya bakal melakukan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Penyerapan saham baru milik Merdeka Copper Gold akan dilakukan anak usaha Provident Agro, yakni PT Suwarna Arta mandiri. Apabila terealisasi, maka ekspansi tersebut akan menjadi ekspansi Provident Agro di luar core bisnisnya, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Hingga Juni 2018, Provident Agro masih memiliki kas internal Rp1,14 triliun. Dari dana itu Provident berniat mengggunakan sebagian, maksimal Rp600 miliar, untuk mendukung rencana menjadi pembeli siaga rights issue Merdeka Copper Gold.

Provident Agro dan Merdeka Copper Gold merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Saratoga.

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menurunkan target kontrak barunya tahun ini. Hal itu dilakukan seiring mundurnya sejumlah rencana investasi induk usaha perseroan, PT Waskita Karya Tbk (WSKT).

Manajemen perseroan memperkirakan perolehan kontrak baru hingga akhir 2018 adalah Rp8,3 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan target yang dicanangkan sebelumnya yakni Rp11,52 triliun.

Pemangkasan target tersebut terkait dengan keputusan Waskita Karya menunda investasinya, terutama di proyek jalan tol.

Hingga Juli 2018, Waskita Precast telah memperoleh kontrak baru senilai Rp3,93 triliun. Jumlah itu naik 32,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp2,97 triliun.

Investasi Cina dan AS

Pemerintah mengaku perusahaan Amerika Serikat dan Cina mau berinvestasi pabrik baja hinga baterai lithium di Indonesia. Nilai investasi dari investor dua negara tersebut sekitar US$5-10 miliar.

Investasi dari perusahaan kedua negara itu akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu lima tahun. Peresmian dimulainya proyek pembangunan pabrik direncanakan bakal berlangsung pada 30 Agustus 2018.

Selain baja dan lithium, perusahaan tersebut akan berinvestasi pada pabrik nikel, stainless steel dan carbon steel.

Kementerian ESDM

Kementerian energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melelang enam wilayah kerja (WK) minyak dan gas (Migas). Sebanyak enam blok yang lelang dibuka pada 14 Agustus 2018, untuk blok eksplorasi adaalah WK Banyumas, WK Andika Bumi Kita dan WK South East Mahakam.

Sementara itu untuk blok produksi yang akan dilelang Kementerian ESDM adalah WK Makassar Strait, WK South Jambi B dan WK Selat Panjang.

Blok WK Banyumas memiliki potensi 45 juta barel ekuivalen, WK Andika Bumi Kita memiliki potensi 250 juta barel ekuivalen dan WK South East Mahakam memiliki potensi 50 juta barel ekuivalen.

Untuk blok produksi, WK Makassar Strait memiliki cadangan terbukti gas 28 BSCF dan 1,8 juta barel minyak dan konsendat. WK South Jambi B memiliki potensi 0,6 juta barel minyak dan 217,2 BSCF gas. Sedangkan WK Selat Panjang memiliki cadangan terbukti minyak 4,3 jtua barel dan cadangan terbukti gas 47,8 BSCF.   

NPL Bank Cina

Jumlah kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bank-bank di Cina mengalami peningkatan pada kuartal II 2018. NPL pada akhir Juni 2018 tercatat sudah mencapai 1,96 triliun yuan, meningkat 183 miliar yuan atau setara US$26,6 miliar.

Data tersebut menjadi sebuah kemunduran di tengah upaya pemerintah Cina untuk mendorong bank terus mengucurkan kredit. Jumlah kredit bermasalah mewakili 1,86 persen dari total uang muka sehingga menjadi rasio tertinggi sejak Maret 2009.

(AM)