Berita Hari Ini : Trump Kembali Ancam China, Anak Usaha BNBR akan IPO

Bareksa • 20 Jun 2018

an image
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump saat mengumumkan serangan udara ke Suriah, di Gedung Putih, AS, 14 April 2018. (sumber : www.whitehouse.gov)

Pelepasan DLTA akan dibahas DPRD DKI, Indonesia bisa terapkan AEoI mulai September, SHID target okupansi 60 persen

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 20 Juni 2018 :

Perang Dagang

Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China ternyata terus berlanjut. Rentetan proses pembicaraan kedua pihak yang telah berjalan dua putaran, belum membuahkan hasil positif.

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan tarif baru bagi barang produksi China yang memasuki pasar AS. Jika dinominalkan, tarif 10 persen setara dengan US$200 miliar.

Dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Selasa, 19 Juni 2018, Trump mengatakan telah meminta perwakilan perdagangan AS untuk mengidentifikasi produk-produk China yang harus dikenakan tarif baru. Trump menyatakan langkah itu merupakan pembalasan atas keputusan China menaikkan tarif atas produk AS senilai US$50 miliar.

"Setelah proses hukum selesai, tarif ini akan berlaku jika China menolak untuk mengubah praktiknya dan bersikeras maju dengan tarif baru yang baru-baru ini diumumkan," kata Trump

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)

Perseroan akan membawa holding anak usahanya di bawah bendera Bakrie Industry untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada kuartal IV 2018.

Mengutip Bisnis Indonesia, Direktur Utama Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar, mengatakan saat ini perseroan masih melanjutkan proses restrukturisasi utang. Di tengah proses tersebut, emiten berkode saham BNBR ini mencari peluang-peluang ekspansi usaha.

“Kami mau gabungkan semua usaha manufaktur di bawah Bakrie & Brothers jadi holding Bakrie Industry. Jadi di dalamnya ada pabrik konstruksi, fabrikasi baja, pipa, otomotif, dan building materials,” tutur Bobby.

Setelah terbentuk, holding usaha manufaktur BNBR itu akan dibawa ke pasar modal dengan menggelar initial public offering (IPO). Menurut Bobby, langkah itu untuk membuka pintu masuk bagi investor strategis asal China.

PT Delta Djakarta Tbk (DLTA)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus melanjutkan rencana pelepasan seluruh sahamnya di PT Delta Djakarta Tbk (DLTA). Rencananya, Pemprov DKI akan mengajukan kajian pelepasan 26,25 persen saham di emiten dengan kode DLTA itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta dalam waktu dekat.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga S. Uno, mengatakan saat ini, kajian yang akan menjadi bahan pembahasan bersama antara Pemprov dengan anggota parlemen tengah dipersiapkan. Dia berharap dalam pembahasan nanti, akan tercapai titik temu dengan DPRD DKI Jakarta.

"Setelah Lebaran, kami akan kaji bersama dengan DPRD terkait pelepasan saham ini," ujarnya, Selasa, 19 Juni 2018.

Pajak

Pertukaran informasi perpajakan melalui skema Automatic Exchange of Information (AEoI) sudah bisa diterapkan mulai September 2018 mendatang. Pada 14 Juni 2018, Pemerintah Indonesia juga mengikuti kerjasama global forum OECD di Vaduz, Liechtenstein. Di Forum ini Indonesia telah menjalani asesmen untuk Exchange of Information (EoI) on Request atau pertukaran informasi berdasarkan permintaan.

Dalam asesmen ini, OECD memiliki standar, yakni adanya aturan komprehensif untuk bisa mengakses beneficial ownership (BO). Standar ini sudah bisa dipenuhi Pemerintah Indonesia, karena pada Maret 2018, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang BO yang mengatur keterbukaan pemilik manfaat dari sebuah korporasi.

Salah satu tujuan beleid ini adalah mencegah upaya melarikan diri dari beban pajak melalui aktivitas pengelakan (tax evasion) dan penghindaran pajak (tax avoidance).

PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID)

Emiten perhotelan dengan kode saham SHID ini menargetkan tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi perseroan tahun ini dapat meningkat menjadi 65 persen dari tahun lalu 60 persen. Mengutip Bisnis Indonesia, Direktur Hotel Sahid Jaya, Dyah Tri Anjayani, mengatakan bahwa target tersebut adalah rata-rata untuk seluruh portofolio hotel perseroan yang kini mencapai 24 unit, dan akan bertambah lagi 4 unit menjadi 28 unit hingga akhir tahun.

Sementara itu, untuk hotel unggulan perseroan, yakni Grand Sahid Jaya Jakarta, perseroan menargetkan peningkatan dari 40 persen menjadi 60 persen untuk rata-rata okupansi sepanjang tahun.

“Kami optimistis bisa mencapai okupansi kira-kira 60 persen [di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta]. Untuk mencapai hasil pendapatan Rp180 miliar [meningkat 41 persen dari Rp128 miliar tahun lalu] kita bisa dengan okupansi 60 persen,” katanya. (AM)