Fundamental dan Teknikal PGAS : Anjlok 14 Persen Sepanjang Maret, Ini Potensinya

Bareksa • 29 Mar 2018

an image
Petugas mengisi bahan bakar gas pada angkutan kota di Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG) di Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/3). PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) membukukan pendapatan sebesar 2,97 miliar dolar AS sepanjang tahun 2017, meningkat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,93 miliar dolar AS. ANTARA FOTO/Yulius

Pada Kamis, pukul 09.40 WIB, harga saham PGAS di level Rp2.220 per saham atau 2,63 persen

Bareksa.com - Harga saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis, 29 Maret 2018 dibuka langsung memerah. Pada Kamis, pukul 09.40 WIB, harga saham PGAS di level Rp2.220 per saham atau 2,63 persen. 

Pelemahan itu berlanjut, setelah pada perdagangan Rabu, 28 Maret2018, saham PGAS ditutup turun cukup tajam 4,2 persen dengan berakhir di level Rp 2.280 per saham. Saham PGAS ditransaksikan sebanyak 5.462 kali dengan nilai transaksi Rp132,52 miliar.

Berdasarkan aktivitas broker summary, tiga anggota bursa yang menempati jajaran top seller atau sebagai penjual terbanyak saham PGAS yaitu RHB Sekuritas (DR) dengan nilai penjualan Rp30,35 miliar, kemudian Deutsche Sekuritas (DB) Rp14,88 miliar, dan Mirae Asset Sekuritas (YP) Rp13,51 miliar.

PGAS menjadi salah satu saham yang turun cukup dalam selama bulan Maret ini, di mana saham ini secara month to date telah kehilangan nilai pasarnya sekitar 14,61 persen.

Fundamental PGAS

Mengacu pada laporan keuangan perusahaan tahun 2017, emiten BUMN penyalur gas itu tercatat masih memiliki kinerja kurang memuaskan. Laba bersih pada 2017 anjlok 52,9 persen dari sebelumnya US$304 juta pada 2016 menjadi US$143 juta pada 2017.

Padahal, dilihat dari top line-nya PGN masih mencatat peningkatan tipis 1,2 persen pada pos pendapatannya dari sebelumnya US$2,93 miliar pada 2016 menjadi US$2,96 miliar pada 2017. Hal tersebut menandakan efisiensi yang dilakukan perusahaan tidak berjalan dengan baik.

Di tengah efisiensi yang dilakukan perusahaan, tetap saja pos beban pokok pendapatan naik 6,1 persen dari sebelumnya US$ 2,1 miliar pada 2016 menjadi US$2,2 miliar pada 2017. Hal ini berimbas langsung pada pos laba kotor perusahaan yang anjlok 10,1 persen menjadi US$797 juta pada 2017.

Kinerja Keuangan PGAS (US$ juta)

Di sisi lain, apabila diperhatikan pada grafik tersebut, terlihat bahwa pendapatan PGN relatif stagnan dalam enam tahun terakhir. Akan tetapi, laba bersih perusahaan terpantau terus turun selama lima tahun berturut-turut, dan menjadikan kinerja laba tahun 2017 merupakan yang terendah sejak 2012.


Sumber : laporan keuangan perusahaan

Berdasarkan segmen usaha yang dijalankan perseroan, pendapatan utama PGAS ditopang oleh distribusi gas yang mencapai 81 persen dari keseluruhan pendapatan. Kemudian disusul oleh penjualan minyak & gas serta sewa pembiayaan yang masing-masing berkontribusi 16 persen dan 2 persen.

Informasi lain, pada kuartal IV 2017 infrastruktur pipa gas PGN bertambah sepanjang lebih dari 175 kilometer dan saat ini mencapai lebih dari 7.450 kilometer atau setara dengan 80 persen pipa gas bumi hilir nasional.

Sementara itu, selama periode Januari hingga Desember 2017, PGN menyalurkan gas bumi 855,5 BBTUD dengan rincian volume gas distribusi 771,55 BBTUD dan volume transmisi gas bumi 83,95 BBTUD.

Analisis Teknikal PGAS


Sumber : Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal, candle saham PGAS pada perdagangan kemarin membentuk bearish candle dengan body yang cukup besar menggambarkan saham ini bergerak negatif dengan bergerak dalam rentang yang cukup lebar.

Volume terlihat mengalami penurunan menandakan tekanan yang mulai mereda pada saham ini, namun investor asing terpantau masih melakukan net sell pada saham ini senilai Rp8,3 miliar.

Kemudian di sisi lain, secara tren saham PGAS masih berada dalam fase downtrend kemudian pada perdagangan kemarin candle saham PGAS mulai menembus garis MA 60 yang mengindikasikan adanya potensi penurunan lebih lanjut.

Selain itu, indikator relative strength index (RSI) juga terlihat masih bergerak turun. (AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.