Fundamental ASRI : Kinerja Cemerlang di 2017 Ditopang Penjualan Apartemen

Bareksa • 21 Mar 2018

an image
Ilustrasi: Perumahan Alam Sutera (Alam Sutera)

Emiten properti ini mencetak laba bersih meroket 171 persen menjadi Rp1,4 triliun pada 2017

Bareksa.com - PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) berhasil membukukan kinerja keuangan cemerlang pada tahun lalu. Kinerja tersebut meskipun tahun lalu pasar properti dan real estate Tanah Air belum membaik di tengah penurunan daya beli masyarakat. '

Perusahaan yang berfokus pada pengembangan residensial dan komersial di Jakarta dan Bali ini berhasil membukukan pendapatan melonjak 44,2 persen menjadi Rp3,9 triliun pada 2017 dibandingkan Rp2,7 triliun di 2016.

Kenaikan pendapatan ini membuat laba bersih juga ikut terkerek 171 persen menjadi Rp1,4 triliun pada 2017 dari Rp508 miliar di 2016.

Kinerja ASRI pada 2017 itu terlihat fantastis karena perseroan mencatatkan penurunan kinerja pada 2 tahun sebelumnya yakni pada 2015 dan 2016.

Meski begitu, kinerja ASRI pada 2017 masih lebih baik dibandingkan 2014, ketika belum ada penurunan.

Kenaikan pendapatan ASRI didorong kenaikan segmen real estate 51 persen menjadi Rp3,5 triliun pada 2017. Pendapatan dari segmen real estate ini berkontribusi 90 persen terhadap total pendapatan ASRI.

Segmen ini juga terdiversifikasikan ke dalam beberapa sumber, yaitu penjualan tanah, rumah & ruko, apartemen, dan ruangan perkantoran yang masing-masing berkontribusi 44 persen, 36 persen, 19 persen, dan 0,1 persen terhadap total pendapatan dari segmen real estate.

ASRI juga mencetak pendapatan dari segmen jasa hospitality dan pariwisata & lainnya yang berkontirbusi masing-masing 8 persen dan 2 persen.

Kinerja Segmen Real Estate ASRI

Secara lebih rinci, kenaikan pendapatan ASRI dari segmen real estate ini didorong dari penjualan apartemen yang naik signifikan 870 persen menjadi 1.524 unit dari 157 unit pada 2016 lalu.

Namun untuk penjualan tanah justru anjlok 86 persen jadi 45 unit, penjualan rumah dan ruko turun 10 persen menjadi 1.082 unit, dan penjualan ruangan perkantoran juga turun 98 persen menjadi hanya 1 unit.

Sebagai informasi, daya beli masyarakat di sektor properti memang belum sepenuhnya pulih sejak dua tahun lalu. Sebelumnya pertumbuhan harga properti mencapai puncaknya di akhir tahun 2013.

Padahal, pemerintah juga telah meluncurkan berbagai stimulus untuk mendorong sektor properti agar kembali bergeliat, seperti pelonggaran LTV (loan to value).

Dengan pelonggaran tersebut, sejak Agustus 2016, pembiayaan kredit kepemilikan rumah (KPR) diubah menjadi 85 persen, 80 persen, dan 75 persen dari harga rumah masing-masing untuk rumah ke 1, 2, dan 3.

Selain itu, pemerintah juga menurunkan pajak penghasilan dari pajak final atas penjualan properti dari 5 persen menjadi 2,5 persen, seiring dengan menurunnya suku bunga Bank Indonesia.

Dengan berbagai stimulus tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali daya beli masyarakat di sektor properti.

Seiring dengan kinerja keuangannya, pergerakan harga saham ASRI sudah naik 7,8 persen sejak awal tahun. Hingga jeda siang perdagangan hari ini, Rabu 21 Maret 2018, saham ASRI naik 1,04 persen ke level Rp388 per saham.  (hm)