Pertamina Klaim Bakal Rugi Rp23,4 Triliun, AKR Optimisitis Masih Untung

Bareksa • 20 Mar 2018

an image
Pekerja beraktivitas di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Pertamina dan AKR Corporindo harus menanggung selisih antara pembelian minyak dan harga bahan bakar minyak bersubsidi

Bareksa.com – PT Pertamina (Persero) memiliki potensi kerugian hingga Rp23,4 triliun tahun ini apabila tidak ada perubahan harga minyak yang telah menembus US$60 per barel. Perseroan harus menanggung selisih antara pembelian minyak dan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Direktur Pemasaran Pertamina, M Iskandar, mengungkapkan pada periode Januari - Februari tahun ini, total potensi kerugian perseroan karena selisih harga minyak beli dan menjual BBM bersubsidi telah mencapai Rp3,9 triliun. Jumlah itu berasal dari penjualan premium dan solar di daerah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) maupun daerah non-Jamali.

“Untuk solar dan premium penugasan selama Januari-Februari potential loss sudah Rp3,49 triliun ditambah premium untuk Jamali Rp 3,9 triliun,” tuturnya di Jakarta, Senin, 19 Maret 2018.

Iskandar mengungkapkan, apabila dikalkulasi secara full year, maka total kerugian tersebut dikalikan enam sehingga total potensi kerugian perseroan mencapai sekitar Rp23,4 triliun. Jumlah itu telah ditambah dengan faktor lain, yakni kenaikan konsumsi permium dan solar saat lebaran yang meningkat sekitar 5-7 persen.

Iskandar menuturkan dengan formula harga yang ditetapkan pemerintah, maka harga premium periode April-Juni 2018 harusnya mencapai Rp8.600 per liter. Sementara saat ini premium dijual senilai Rp6.450 per liter, sehingga ada selisih harga Rp2.150 per liter.

Sedangkan untuk solar, dengan formula harga yang ditetapkan seharusnya harganya Rp8.350 per liter sementara saat ini dijual Rp5.150 per liter. Dengan harga penjualan tersebut ada selisih harga Rp3.200 per liter.

Prediksi AKR Corporindo

Sementara itu, distributor BBM di Indonesia lainnya, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mengaku masih memiliki margin keuntungan meskipun harga minyak dunia meningkat tahun ini. Dia percaya formula harga yang ditentukan pemerintah masih menguntungkan bagi perseroan.

Direktur Utama AKR Corporindo, Hariyanto Adikusumo, menuturkan pada dasarnya perseroan mengalami kerugian Rp3.200 per liter untuk penjualan BBM jenis solar bersubsidi. Tetapi, apabila mengikuti formula harga pemerintah, AKR bakal mendapatkan margin Rp359 per liter dari penjualan solar. Margin tersebut akan dibagi kepada para penyalurnya.

Meski begitu, dia mengaku jatah penugasan distribusi BBM bersubisidi perseroan hanya 10 persen dari total volume distribusi perseroan. AKR hanya mendapatkan tugas menyalurkan solar bersubisdi 250 ribu kiloliter.

Sebanyak 90 persen BBM yang disalurkan perseroan adalah BBM nonsubsidi. Sehingga, keuntungan AKR dari bisnis distribusi BBM masih cukup baik.

“Hanya terdapat persoalan cashflow saja dari penyaluran BBM subsidi,” ujarnya.

Saat ini AKR memiliki 17 lokasi penimbunan BBM. Sejak ditugaskan menjadi distributor BBM pertama kali pada 2010, perseroan telah meningkatkan kapasitas storagenya menjadi 666 ribu kiloliter dari sebelumnya sebeasr 484 ribu kiloliter.

AKR Corporindo mengoperasikan distribusi BBM di 12 wilayah provinsi melalui 10 depot yang menyalurkan BBM di 152 titik. Dalam menyalurkan BBM bersubsidi, perseroan menggunakan teknologi untuk mengatur penjualan.

Sistem information technology (IT) perseroan mengharuskan menginput nomor identeitas kapal nelayan atau motor untuk bisa mengeluarkan solar dari mesin. Apabila nomor identitsasnya tidak sesuai maka solar tidak akan keluar dari mesin. (AM)