Neraca Dagang Desember 2017 Defisit US$270 Juta

Bareksa • 15 Jan 2018

an image
Sejumlah pekerja beraktivitas membongkar muat peti kemas di Pelabuhan Pelindo I Perawang di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (18/10). PT Pelindo I (Persero) menambah kapasitas lapangan tampung peti kemas Pelabuhan Perawang dari 88 ribu TEU, atau unit ekuivalen dua puluh kaki, menjadi 100 ribu TEU. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

BPS mencatat secara kumulatif sepanjang Januari-Desember 2017, Indonesia mencetak surplus perdagangan US$11,84 miliar

Bareksa.com - Indonesia mencatat nilai ekspor yang lebih rendah dibandingkan dengan impor pada Desember 2017, menjadikan neraca dagang defisit sejak Juli 2017. Meskipun demikian, secara kumulatif sepanjang Januari-Desember 2017, Indonesia mencetak surplus perdagangan US$11,84 miliar tertinggi dalam lima tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia Desember 2017 mencapai US$14,79 miliar atau menurun 3,45 persen dibanding ekspor November 2017. Sementara dibanding Desember 2016 meningkat 6,93 persen.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas Desember 2017 terhadap November 2017 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$205,2 juta (38,83 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$421,0 juta (126,05 persen).

Nilai impor Indonesia Desember 2017 mencapai US$15,06 miliar atau turun 0,29 persen dibanding November 2017. Sebaliknya, jika dibandingkan Desember 2016, impor meningkat 17,83 persen.

Dari selisih ekspor dan impor tersebut, terdapat defisit US$270 juta pada Desember 2017. Defisit terakhir terjadi pada Juli 2017 yakni sebesar US$271 juta.

Grafik Neraca Perdagangan Indonesia Bulanan

Sumber: BPS diolah Bareksa.com

 

Meskipun demikian, secara kumulatif sepanjang Januari-Desember 2017, Indonesia mencetak surplus perdagangan US$11,84 miliar.

 

Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2017 mencapai US$168,73 miliar atau meningkat 16,22 persen dibanding periode yang sama tahun 2016.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2017 naik 13,14 persen dibanding periode yang sama tahun 2016, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 7,79 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 33,71 persen.

Ekspor nonmigas Desember 2017 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,19 miliar, disusul Jepang US$1,47 miliar dan Amerika Serikat US$1,42 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,31 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,33 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2017 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$29,18 miliar (17,29 persen), diikuti Jawa Timur US$18,43 miliar (10,92 persen) dan Kalimantan Timur  US$17,63  miliar (10,45 persen).

Impor  migas  Desember  2017  mencapai  US$2,55  miliar atau  naik  15,89  persen  dibanding  November  2017  dan juga meningkat 50,10 persen dibanding Desember 2016.

Peningkatan  impor  nonmigas  terbesar  Desember  2017 dibanding November 2017 adalah kapal laut dan bangunan terapung  US$121,8  juta  (194,88  persen),  sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan pesawat mekanik sebesar US$199,2 juta (8,51 persen).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Desember 2017 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai  US$35,52  miliar  (26,79  persen),  Jepang  US$15,21 miliar  (11,47  persen),  dan  Thailand  US$9,19  miliar  (6,93 persen).  Impor  nonmigas  dari  ASEAN  20,37  persen, sementara dari Uni Eropa 9,27 persen.

Nilai  impor  semua  golongan  penggunaan  barang  baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama  Januari–Desember  2017  mengalami  peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masingmasing 14,69 persen, 16,56 persen, dan 12,14 persen.