Grup MNC Agresif Cari Dana Di Pasar Modal, Ini Rinciannya

Bareksa • 06 Jun 2017

an image
Hary Tanoesoedibjo, CEO MNC Group. (twitter.com/@Hary_Tanoe)

Setelah BABP dan BCAP akan rights issue dan private placement, kini giliran BMTR cari dana via obligasi dan sukuk

Bareksa.com – Emiten-emiten yang berada di bawah naungan Grup MNC milik Hary Tanoesoedibjo, mulai agresif mencari pendanaan dari pasar modal. Tujuannya bermacam-macam, mulai dari penguatan modal hingga kebutuhan pelunasan utang.

Beberapa waktu lalu, dua perusahaan keuangan Grup MNC yakni PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT MNC Kapital Tbk (BCAP) mendapat persetujuan untuk menggelar penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) dan penempatan langsung (private placement). Total penggalangan dana dari dua aksi itu mencapai Rp 1,1 triliun.

Bahkan, Bank MNC punya rencana terus menggelar aksi serupa hingga 2021 dengan target dana Rp 2,5 triliun. Untuk tahun ini, Bank MNC akan mencari tambahan modal Rp 500 miliar untuk memperkuat modalnya menjadi Rp 2 triliun.

Dengan cara berbeda, PT Global Mediacom Tbk (BMTR) juga berencana mencari dana dari pasar modal. Pilihannya adalah dengan penawaran umum berkelanjutan (PUB) I dan sukuk ijarah berkelanjutan. Target dana yang dihimpun dari PUB itu sebanyak-banyaknya Rp 1,1 triliun. Untuk tahap pertama, target perolehan dananya sebesar Rp 850 miliar.

Tujuan Global Mediacom juga berbeda dengan Bank MNC dan MNC Kapital. Menurut Direktur Global Mediacom, Oerianto Guyandi, dana hasil penerbitan surat utang sebagian besar akan digunakan untuk refinancing. Salah satunya untuk melunasi utang Obligasi Seri B Tahun 2012 senilai Rp 1 triliun. Obligasi tersebut bakal jatuh tempo pada 12 Juli 2017.

“Sisanya akan kami gunakan untuk modal kerja,” tutur Oerianto, Senin, 5 Juni 2017. Tahun ini, Global Mediacom tengah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$ 100 juta.

Dana itu untuk ekspansi, sehingga perseroan butuh modal kerja terutama untuk pengembangan salah satu pilar bisnis, subscription media. "Nilai modal kerja kami sesuaikan dengan kebutuhan. Kemungkinan berkisar Rp 300 - 400 miliar," imbuh Oerianto.

Sebagai informasi, PUB atau obligasi Global Mediacom terpecah menjadi tiga tenor, yakni 5, 6, dan 7 tahun dengan rentang kupon berkisar 10,75 persen-11,5 persen untuk tenor 5 tahun, kisaran 11 persen-11,75 persen untuk 6 tahun, dan 11,25 persen-12 persen untuk tenor 7 tahun.

Sementara, sukuk ijarah tahap I ditawarkan dalam tiga tenor, yakni 5, 6, dan 7 tahun. Cicilan imbalan sukuk ijarah masing-masing pada rentang 10,75 persen-11,5 persen untuk tenor 5 tahun, kisaran 11 persen-11,75 persen untuk 6 tahun, dan 11,25 persen-12 persen untuk 7 tahun.

Dalam rangka penerbitan obligasi dan sukuk ijarah ini, BMTR telah memperoleh hasil pemeringkatan atas efek hutang jangka panjang dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yakni idA+ dan idA+ syariah.

Bertindak selaku penjamin pelaksana emisi adalah PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT MNC Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. Sedangkan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. bertindak selaku wali amanat.

Masa penawaran awal obligasi dijadwalkan pada 5-15 Juni, tanggal efektif pada 23 Juni, masa penawaran 4-5 Juli, penjatahan 6 Juli, pencatatan pada PT Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2017.

Pergerakan Harga Saham

Sepanjang tahun ini, pergerakan harga tiga saham emiten Grup MNC bervariasi. Misalnya saja BABP yang per akhir Mei 2017 mengalami penurunan 8,8 persen ke Rp 62 jika dibandingkan posisi akhir 2016 yang masih berada pada Rp 68.

Sementara saham BCAP yang jarang ditransaksikan ada pada level Rp 1.580 atau naik 6,75 persen dari posisi akhir tahun 2016 Rp 1.480.

Di sisi lain, saham BMTR yang tahun ini keluar dari deretan saham LQ45 mencatat kenaikan 6,5 persen per 31 Mei 2017 dari Rp 615 pada akhir 2016 menjadi Rp 655.

Grafik: Perbandingan Return BABP, BCAP, dan BMTR

Sumber: Bareksa.com