
Bareksa.com - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) resmi akan membangun jalan tol Jakarta-Cikampek II (elevated). Proyek yang rencananya berupa jalan layang di atas ruas yang sudah ada saat ini menelan nilai investasi Rp16 triliun.
Pada hari ini, Jasa Marga dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah melakukan Penandatanganan Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk jalan tol Jakarta-Cikampek II (elevated). Jasa Marga dalam konsorsium akan bekerja sama dengan PT Ranggi Sugiron Perkasa untuk membangun jalan tol sepanjang 36,4 kilometer tersebut.
Jasa Marga dan Ranggi Sugiron membentuk usaha patungan bernama PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek yang ditunjuk untuk melakukan pembangunan jalan ini. Sebanyak 80 persen saham di perusahaan patungan ini dimiliki oleh Jasa Marga sedangkan 20 persennya dimiliki oleh Ranggi Sugiron.
Pembangunan diperkirakan akan dimulai pada triwulan kedua tahun 2017 dan ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2019. Konsesi untuk jalan tol ini mencapai 45 tahun.
Pendanaan proyek ini akan menggunakan skema Contractor Pre Financing (CPF). Dengan sistem ini kontraktor akan mendanai pembangunan proyek ini terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah dilakukan serah terima dan pembelian oleh BPJT.
Untuk mendanai sebagian proyek ini, Jasa Marga telah melakukan penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue senilai Rp1,8 triliun. Operator jalan tol tersebut dalam aksi korporasi ini menerbitkan sebanyak 457,87 juta saham baru. Harga tebus right issue JSMR sudah ditetapkan di angka Rp3.900 per saham. (Baca juga: Harga Teoritis Right Issue JSMR Rp4.040)
Pembangunan proyek jalan layang di atas jalan tol yang sudah ada ini ini diharapkan bisa membantu mengurai kemacetan dan kepadatan lalu lintas di rute yang sudah ramai tersebut sehingga membuat waktu tempuh lebih cepat. Pembangunan ini diharapkan bisa meringankan beban jalan tol Jakarta-Cikampek yang dibangun sejak tahun 1988 ini.
Perbandingan volume terhadap kapasitas (V/C) di jalan tol Jakarta-Cikampek sendiri telah mencapai 1,51 kali. Ini berarti volume lalu lintas sudah melampaui kapasitas jalan yang ada.
Pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek II dibagi menjadi 9 seksi. Seksi tersebut adalah Cikunir-Bekasi Barat (2,99 kilometer), Bekasi Barat-Bekasi Timur (3,63 km), Bekasi Timur - Tambun (4,34 km), Tambun-Cibitung (3,30 km).
Selain itu adalah seksi Cibitung-Cikarang Utama (4,46 km), Cikarang Utama-Cikarang Barat (2,72 km), Cikarang Barat Cibatu (3,16 km), Cibatu-Cikarang Timur (2,45 km) dan Cikarang Timur-Karawang Barat (9,79 km).
Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar
Pada saat yang sama, juga telah dilakukan PPJT Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) sepanjang 38,29 kilometer di Jawa Timur yang akan dibangun oleh PT Waskita Bumi Wira (WBW). WBW merupakan konsorsium antara PT Waskita Toll Road (55 persen), PT Energi Bumi Mining (25 persen) dan juga PT Panca Wira Usaha (20 persen).
Sebagai informasi, Waskita Toll Road adalah anak usaha dari PT Waskita Karya Tbk (WSKT).
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimoeldjono, mengingatkan dalam pembangunan kedua ruas ini para BUJT harus sangat memperhatikan metode kerja dan pengendalian konstruksi.
“Terutama saat pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek II karena jalan tol ini dibangun tepat di median jalan tol Jakarta-Cikampek eksisting,” ujarnya di Jakarta, Senin 5 Desember 2016.
Sementara itu, jalan tol KLBM akan dibagi menjadi empat seksi. Keempat seksi tersebut adalah seksi Krian-Kedamen (9,5 km), seksi Kedamen-Boboh (9,1 km), Boboh-Bunder (10,57 km) dan Bunder-Manyar (9,12 km).
Proses konstruksi sendiri diperkirakan akan dimulai pada semester pertama 2017. Target lalu lintas harian (LHR) pada tahun 2019 mencapai 21.718 kendaraan per hari. Nilai investasi untuk jalan tol ini mencapai Rp12,22 tirliun. (hm)