Saham Batu Bara Dominasi Return Tertinggi, Emiten Ini Dapat Rekomendasi

Bareksa • 07 Oct 2016

an image
Ilustrasi pertambangan batu bara. (Peabody Energy, Inc/Wikimedia Commons)

Kim Eng: ADRO jadi top pick untuk sektor tambang

Bareksa.com – Di tengah penurunan sebagian besar sektor di bursa saham, sektor tambang malah mencetak kenaikan. Naiknya harga batu bara belakangan ini, ditambah rencana relaksasi aturan ekspor tambang oleh pemerintah menjadi sentimen positif sektor tambang.

Indeks sektoral tambang hari Kamis (6 Oktober 2016) ditutup meningkat 2,08 persen sementara IHSG terkoreksi 0,21 persen. Dari sepuluh saham yang mencetak return tertinggi, empat saham merupakan perusahaan batu bara yaitu PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) naik 31,68 persen, PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang melonjak 25 persen, PT Delta Dunia Makmur Tbk DOID naik 15 persen dan PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) yang meningkat 13 persen. Secara year-to-date, tiga emiten tambang mampu mengalahkan kinerja IHSG yang hanya 18 persen. DOID bahkan mencetak return triple digit yaitu 344,33 persen.

Grafik: Pergerakan Harga Saham Tambang Year-to-Date

Sumber: Bareksa

Kenaikan saham emiten tambang tidak terlepas dari melonjaknya harga batu bara beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data Index Mundi, harga komoditas batu bara thermal FOB Newcastle di bulan Agustus telah mencapai US$72,19 per ton. Sementara itu, harga batu baca acuan (HBA) dalam negeri berdasarkan data ESDM telah meningkat menjadi US$69,07 per ton atau yang tertinggi sepanjang 2016 ini.

Grafik: Harga Batu Bara (FOB Newcastle)

Sumber: Indexmundi

Pada laporan risetnya mengenai sektor tambang, Kim Eng Securities melabeli sektor ini dengan ‘Neutral’. Perusahaan batu bara diperkirakan akan memiliki posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan produsen nikel.

Rencana relaksasi aturan mineral dapat meningkatkan risiko operasional perusahaan nikel. Top pick untuk sektor tambang adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dikarenakan struktur biaya yang rendah, keuangan yang sehat dan diversifikasi usaha sehingga volatilitas pendapatan lebih rendah.  

Senada dengan Kim Eng, Citi Group berpandangan positif terhadap perusahaan batu bara seiring dengan kebijakan pemerintah Tiongkok dalam stabilisasi harga dan pasokan batu bara. Namun Citi berpendapat kenaikan harga batu bara yang terlalu tinggi tidak akan dibiarkan oleh Tiongkok dan terdapat potensi koreksi. Untuk emiten terkait tambang, Citi lebih memilih PT United Tractor Tbk (UNTR). (hm)