MARKET FLASH: Adaro Beli 75% Saham IndoMet; Cadangan Devisa Susut $4,1 Miliar

Bareksa • 08 Jun 2016

an image
Seorang petugas lapangan tengah mengawasi pengangkutan batubara milik Adaro Energy di anak sungai Mahakam, Kalimantan (Company)

SSIA sedang menjajaki lima sampai enam investor sebagai calon pembeli lahan

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

Perusahaan tambang asal Australia, BHP Billiton Ltd sepakat menjual 75 persen saham pada proyek IndoMet Coal kepada PT Alam Tri Abadi, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Nilai transaksi ditaksir mencapai $120 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.

Dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa 7 Juni 2016, Sekertaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk Mahardika Putranto mengatakan, Adaro sudah menandatangani share sale agreement dengan BHP Mineral Asia Pacific Pty. Ltd pada 3 Juni 2016. Adapun objek transaksi adalah tujuh Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang dimiliki BHP Billiton.

Cadangan Devisa Turun

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa per akhir Mei 2016 sebesar $103,6 miliar, turun $4,1 miliar dari bulan sebelumnya. BI menyatakan, penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk membayar utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Selain itu, penurunan cadangan devisa Mei juga dipengaruhi tingginya kebutuhan valas oleh masyarakat untuk pembayaran kewajiban sesuai pola musiman. Meski turun, cadangan devisa tersebut diklaim masih cukup untuk membiayai 7,9 bulan impor atau 7,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)

SMRA mencatat pendapatan prapenjualan atau marketing sales sebanyak Rp14 triliun per Mei 2016. Jumlah tersebut setara 31 persen dari total target hingga akhir 2016 sebesar Rp4,5 triliun. Sebanyak 72 persen dari total marketing sales persusahaan disumbangkan oleh penjualan rumah tapak sedangkan sisanya disumbang apartemen dan ruko masing-masing 11 persen dan 17 persen.

Sementara itu, berdasarkan lokasi proyek, Serpong masing mendominasi prapenjualan Summarecon dengan porsi 65,5 persen atau Rp917 miliar. Angka ini disusul proyek Summarecon Bandung dan Summarecon Bekasi yang menyumbang pendapatan masing-masing Rp277 miliar dan Rp133 miliar.

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)

SSIA sedang menjajaki lima sampai enam investor sebagai calon pembeli lahan dengan permintaan hingga lebih dari 100 hektare (ha). Para investor tersebut bergerak di bidang otomotif, building material, dan pergudangan.

Presiden Direktur SSIA Johanes Suriadjaja mengatakan calon investor tersebut ada yang berasal dari dalam negeri, Eropa, dan Jepang. Namun ia mengaku belum tahu kapan investor tersebut akan merealisasikan pembelian lahan. Menurutnya, investor masih menunggu kebijakan yang lebih ramah dari pemerintah Indonesia. Sebab, selain mempelajari pasar Indonesia, para investor juga mempertimbangkan lahan industri di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand.

PT Metropolitan Land Tbk (MTLA)

MTLA bakal melunasi utang jatuh temponya hingga setahun mendatang sebesar Rp210 miliar. Perusahaan akan menggunakan kas internal untuk melunasi utang tersebut. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Metland Olivia Surodjo mengungkapkan, kas internal perseroan masih cukup untuk untuk melunasi utang tersebut.

Perseroan menyatakan belum banyak menggunakan dana pinjaman Rp250 miliar yang didapat tahun 2015 lalu, sehingga cadangan kas masih mencukupi untuk membayar utang yang akan jatuh tempo setahun kedepan