
Bareksa.com - Rupiah kembali menunjukan ototnya pada perdagangan hari ini (Jumat, 9 Oktober 2015). Bahkan, rupiah menjadi yang terkuat di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan data Bloomberg spot hari ini, pada jam 09.46 rupiah berada di level Rp13.429 per dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 3,3 persen dari penutupan hari sebelumnya. Rupiah menguat paling tinggi di kawasan Asia diikuti oleh penguatan ringgit Malaysia 2,25 persen dan dolar Taiwan 0,96 persen.
Grafik: Kurs Asia Pasifik
sumber: Bareksa
Penguatan rupiah dan mata uang lain di kawasan Asia terhadap dolar AS terjadi setelah keluarnya notulensi pertemuan Bank Sentral Amerika dini hari tadi. Notulensi menunjukan adanya kekhawatiran Bank Sentral AS terhadap prospek pertumbuhan global, serta penguatan Dolar yang dianggap membuat inflasi AS jauh di bawah target.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta dalam risetnya hari ini menilai bahwa notulensi FOMC menegaskan alasan penundaan kenaikan suku bunga pada September lalu. Tapi Rangga menegaskan bahwa rupiah masih punya potensi terkoreksi jika tidak ada dukungan pasokan dolar tambahan, baik dari investor maupun Bank Indonesia (BI).
Sebagai informasi, cadangan devisa Indonesia yang dipegang BI sampai dengan September 2015 tersisa sekitar $101,7 miliar, turun dari bulan sebelumnya $105,3 miliar. Cadangan tersebut masih cukup untuk mendanai 7 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Nilai tersebut berada di atas standar kecukupan sekitar 3 bulan impor.
Grafik: Cadangan Devisa BI
sumber: Bank Indonesia, diolah Bareksa