
Bareksa.com – Sekuritas asing, JP. Morgan Securities (BK) melakukan aksi beli saham-saham pertambangan pada perdagangan hari ini,6 Mei 2015, seiring dengan kenaikan harga komoditas global termasuk nikel dan minyak.
BK tercatat sebagai pembeli terbanyak saham PT Timah Tbk (TINS), dengan membeli 100 ribu lot saham atau senilai Rp8,1 miliar saham TINS. Transaksi pembelian saham ini setara dengan 43,3 persen dari total perdagangan saham TINS ini yang nilainya mencapai Rp18,7 miliar.
Sementara, di posisi pembeli terbanyak kedua ditempati oleh Bahana Securities (DX) yang melakukan pembelian sebanyak 8.550 lot atau senilai Rp687 juta. Dibandingkan pembelian yang dilakukan BK, pembelian saham TINS oleh DX hanya sekitar 3,7 persen dari total transkasi.
Banyaknya pembelian saham oleh BK menyebabkan harga saham TINS naik 6,49 persen menjadi Rp820 per saham.
Grafik Pergerakan Intraday Harga Saham PT Timah Tbk (TINS) pada 6 Mei 2015
Sumber: Bareksa.com
Selain saham TINS, BK juga tercatat sebagai pembeli terbanyak saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) setelah membukukan pembelian 20 ribu lot atau senilai Rp1,6 miliar. Nilai pembelian saham ANTM oleh BK ini mencapai 14,5 persen dari total transaksi jual-beli saham ANTM yang nilainya mencapai Rp11 miliar.
Selain BK, CIMB Securities (ZP) juga melakukan aksi beli saham, yang banyak menghasilkan emas batangan. ZP tercatat melakukan pembelian 18 ribu lot saham ANTM atau senilai Rp1,5 miliar. Dengan demikian, nilai pembelian saham oleh ZP setara dengan 13,6 persen dari total transaksi saham ANTM.
Aksi jual-beli ini pun menyebabkan saham ANTM naik 4,52 persen menjadi Rp810 per saham.
Grafik Pergerakan Intraday Harga Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada 6 Mei 2015
Sumber: Bareksa.com
Maraknya pembelian saham pertambangan mineral pada perdagangan hari ini, tidak terlepas dari naiknya harga nikel dan komoditas pertambangan mineral lainnya terutama saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang naik hingga 12,32 persen menjadi Rp3.100 per lembar. (Baca juga: STOCK MOVERS: Harga Nikel Naik, Saham Pertambangan Tahan IHSG Jatuh Lebih Dalam).
(hm)