
Bareksa.com - Seiring dengan keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis poin menjadi 7,5 persen, harga obligasi terus melaju yang tercermin dari turunnya yield obligasi.
Berdasar pada data Bareksa.com, yield obligasi benchmark 10 tahun kembali turun menjadi 7,1 persen akhir pekan lalu, 20 Februari 2015.
Sumber: Bareksa.com
Kenaikan harga obligasi menunjukan keyakinan bahwa penurunan BI Rate akan kembali lagi dilakukan, karena ini merupakan penurunan pertama sejak Juni 2013.
Sejak Juni 2013 BI Rate dinaikkan untuk mengerem laju impor guna menurunkan defisit neraca berjalan. Konsekuensi dari kebijakan itu adalah penurunan pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2014, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02 persen melambat dibandingkan tahun 2013 yang masih tumbuh 5,58 persen.
Namun seiring dengan mulai menurunnya defisit neraca berjalan setelah pemerintah melakukan reformasi atas subsidi energi, maka BI bisa kembali mengendorkan kebijakan moneternya.
Sumber: Bareksa.com
Apalagi dengan rendahnya inflasi membuat BI tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk menaikan BI Rate. Berdasar pada data Bareksa.com, inflasi telah turun ke 6,96 persen akhir bulan Januari akibat pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) setelah melihat penurunan harga minyak dunia.
Kedua hal ini merupakan sentimen positif bagi pergerakan obligasi. Suku bunga riil Indonesia saat ini berada pada level positif, dengan BI Rate 7,5 persen dan inflasi 6,96 persen maka terdapat spread positif 0,54 persen. Jika dibandingkan dengan yield obligasi benchmark 10 tahun juga masih memiliki spread positif 0,14 persen.
Spread positif mengindikasikan ruang bagi Bank Indonesia untuk bisa kembali menurunkan BI Rate, sehingga kedepan akan kembali mendorong naiknya harga obligasi.