
Hasil hitung cepat LSI (Lembaga Survei Indonesia) melaporkan PDI Perjuangan -- meski menjadi pemenang pemilu legislatif -- diperkirakan hanya mendulang 19,79 suara. Angka ini jauh di bawah target partai ini sebesar 27 persen. Konsensus para analis sendiri sebelumnya memproyeksikan "efek Jokowi" bakal mendongkrak suara PDIP 6-7 persen dari angka perolehan saat ini. Bahkan, hasil survei Centre for Stategic and International Studies (CSIS) yang dilakukan pada Maret lalu sempat menunjukkan bahwa "partai banteng" akan melompat ke 33 persen jika Jokowi dicalonkan sebagai presiden. Tanpa Jokowi, PDIP diprediksi akan mendapat kurang lebih 20 persen suara.
Untuk memenuhi persyaratan minimal 25 persen suara, PDIP kini harus membentuk koalisi untuk dapat mencalonkan Jokowi. Selain itu, investor juga mulai diliputi keraguan tentang peluang Jokowi pada pemilihan presiden mendatang.
Buntutnya, Kamis, pasar saham langsung terkapar. IHSG anjlok 3,3 persen hingga ke level 4.757,33 dan ditutup di 4.757,01 pada sesi penutupan. Ini praktis menghapus semua "efek Jokowi" yang melejitkan indeks 3,2 persen saat sang gubernur Jakarta diumumkan bakal maju sebagai calon presiden pada 14 Maret sebelumnya.
Menambah parah keadaan, selain soal politik itu, ada faktor lain yang turut bermain dan lantas memicu aksi profit taking, yakni antara lain return Year to Date (YTD) IHSG dan nilai tukar Rupiah yang telah mencapai level yang relatif baik.
Lantas bagaimana dengan nasib saham di sejumlah sektor — seperti konstruksi dan infrastruktur serta farmasi — yang selama ini digadang-gadang bakal melejit jika Jokowi terpilih menjadi presiden?
Menurut Wilson, analis Reliance Securities, "efek Jokowi" sebenarnya tidak akan begitu besar berdampak terhadap sektor-sektor tersebut karena konstruksi dan infrastruktur serta farmasi tergolong sektor yang defensif. Menurutnya, siapapun presiden Indonesia nantinya, infrastruktur perlu terus dikembangkan, seperti pelabuhan, bandara, dan jalan tol yang mulai gencar dibangun terkait program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Begitu juga dengan sektor farmasi yang dinilai masih bisa bertahan karena permintaan yang cukup kuat. Industri farmasi secara nasional pada 2014 diprediksi tumbuh 28 persen seiring dengan pertumbuhan finansial dan jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia, juga masih akan stabil di kisaran 6 persen pada tahun ini.
Matriks saham sektor konsumer dengan indikator pertumbuhan laba bersih dan Price Earning Ratio (PER). Sumber: Bareksa.com
Namun, menurut laporan lain yang kami pelajari, sektor farmasi, konstruksi dan infrastruktur berpotensi menurun. Kondisi makro ekonomi diproyeksikan masih akan stabil, paling tidak hingga pendaftaran calon-calon presiden dan wakil presiden yang dijadwalkan pada tanggal 10-16 Mei mendatang.
Yang dianggap menguntungkan selama masa Pemilu 2014 adalah saham-saham sektor konsumer seperti PT Indofood Tbk (INDF) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM), serta sektor telekomunikasi dan media seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).
Menurut laporan riset yang kami pelajari, tingkat kepercayaan konsumen telah meningkat sejak dinaikkannya upah minimum di Jakarta tahun ini sebesar 11 persen. Selain itu, pendekatan Jokowi kepada rakyat yang cenderung lebih mempromosikan usaha kecil-menengah lokal serta menetapkan sejumlah peraturan baru bagi peritel modern, memberikan potensi keuntungan untuk beberapa saham seperti PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) (90 persen barang lokal) serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Selain Rupiah yang sempat menguat, indeks kepercayaan konsumen naik ke level 118,2 di bulan Maret 2014, dibandingkan bulan sebelumnya yang 116,2.
Selain itu, di tengah risiko ketidakpastian pemilu saat ini, perusahaan-perusahaan yang menjadi bagian sektor infrastruktur seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dinilai oleh beberapa analis masih mempunyai potensi yang cukup baik. PGAS mempunyai posisi yang menarik dalam proyek pipa gas di Jawa Tengah, karena saat ini daerah tersebut memang bisa dikatakan terisolasi dari jaringan pipa gas. Jadi, potensi pengembangan PGAS masih cukup besar, didukung oleh track record dan kinerja keuangannya yang cukup solid. TLKM sendiri memasuki tahun 2014 dengan kinerja yang baik terkait investasi di jaringan 3G serta dominasinya di ruang fixed broadband dan kemungkinan melakukan spin off untuk menjalankan operasi tower.
*Sigma Kinasih adalah analis Bareksa.com