
Bareksa - Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus all time high (ATH), banyak investor langsung bimbang. Sebagian takut ketinggalan (FOMO), sebagian lain justru khawatir pasar sudah “kemahalan”.
Padahal, rekor IHSG bukan alarm bahaya otomatis. Justru, ATH bisa jadi sinyal bahwa pasar sedang berada dalam tren jangka panjang yang sehat, asal dipahami dengan benar.
Lalu, apa sebenarnya arti rekor ATH bagi investor ritel dan reksa dana? Lebih dari sekadar angka tertinggi, momen ini justru penting untuk memahami posisi kita di pasar. Lantas, langkah cerdas apa yang sebaiknya diambil agar tidak terjebak euforia? Berikut rangkuman strategi investasi dari Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
All time high (ATH) adalah level tertinggi yang pernah dicapai IHSG sepanjang sejarah. Rekor ini biasanya tercipta karena kombinasi:
Pada 2025, IHSG mencetak puluhan rekor harian dan menutup tahun di level tertinggi. Memasuki 2026, tren penguatan berlanjut hingga mencatat ATH baru, berdasarkan data dan rilis Bursa Efek Indonesia (BEI).
Intinya: pasar yang sehat memang sesekali mencetak rekor baru. ATH adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan, bukan tanda pasar “pasti akan jatuh”.
1. ATH ≠ Pasar Pasti Turun
Secara historis, setelah ATH, pasar bisa lanjut naik, sideways, atau terkoreksi. Tidak ada pola tunggal. Banyak investor justru rugi karena keluar pasar terlalu cepat dan kehilangan momentum rebound.
2. IHSG dan LQ45 Itu Beda
IHSG mencakup seluruh saham di BEI, sementara LQ45 berisi 45 saham besar dan likuid. Saat saham-saham high momentum (naik cepat tapi berisiko) mendorong IHSG, reksadana berbasis saham blue chip bisa terlihat tertinggal, padahal secara risiko lebih sehat.
3. Bias Psikologis Lebih Berbahaya dari Volatilitas
ATH sering memicu:
Bias inilah yang sering membuat investor beli di harga tinggi, jual di harga rendah.
Alih-alih panik atau euforia, ATH sebaiknya dijadikan momen evaluasi, bukan spekulasi.
1. Tetap fokus tujuan investasi
Tujuan pensiun, pendidikan, atau dana jangka panjang jauh lebih penting daripada satu titik ATH.
2. Gunakan strategi DCA (investasi berkala)
DCA membantu meredam risiko salah timing dan emosi berlebihan.
3. Diversifikasi & rebalancing
Jangan hanya mengejar aset yang baru naik tajam. Rebalancing membantu menjaga risiko tetap seimbang.
4. Bandingkan dengan benchmark yang tepat
Reksadana saham berbasis blue chip tidak selalu cocok dibandingkan langsung dengan IHSG.
Kesimpulannya: ATH bukan sinyal jual otomatis. Disiplin strategi jauh lebih penting daripada menebak puncak pasar.
1. Apakah aman beli reksadana saham saat IHSG ATH?
Aman selama sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Strategi DCA lebih disarankan dibanding masuk sekaligus.
2. Apakah ATH berarti pasar sudah mahal?
Belum tentu. Valuasi ditentukan oleh laba, prospek ekonomi, dan likuiditas—bukan hanya level indeks.
3. Lebih baik tunggu koreksi dulu?
Masalahnya, tidak ada yang tahu kapan koreksi datang dan seberapa dalam. Banyak investor justru kehilangan momentum karena menunggu terlalu lama.
4. Kenapa reksadana saya kalah dari IHSG?
Bisa jadi karena reksadana fokus pada saham likuid dan fundamental kuat, bukan saham momentum yang sedang naik tajam.
5. Strategi paling aman di tengah euforia pasar?
Diversifikasi lintas aset, DCA rutin, dan rebalancing berkala.
Rekor IHSG bukan musuh investor, namun ketidaksiapan strategi-lah yang berbahaya. Dengan pemahaman yang tepat, ATH justru bisa menjadi pijakan menuju keputusan investasi yang lebih rasional dan konsisten.
Sudah cek apakah portofolio kamu masih sesuai tujuan? Sekarang waktu yang tepat untuk evaluasi, bukan panik. Cek investasimu di Super App Investasi Bareksa.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Reynaldi Gumay/AM)
***
Disclaimer:
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.