Dana Kelolaan Reksadana Awal Juni 2022 Masih Tertekan, Bagaimana Prediksinya?

Dana kelolaan industri reksadana pada awal Juni 2022 mencapai Rp560,64 triliun
Abdul Malik • 21 Jun 2022
cover

Ilustrasi dana kelolaan reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, dana kelolaan (asset under management) industri reksadana pada awal Juni 2022 mencapai Rp560,64 triliun. Nilai ini menurun 3,08 persen dibandingkan awal 2021 yang mencapai Rp578,44 triliun.

Penurunan dana kelolaan ini seiring dengan penurunan jumlah produk reksadana. Hingga 3 Juni 2022, jumlah produk reksadana mencapai 2.177 produk atau menurun 0,96 persen dari akhir 2021 yang mencapai 2.198 produk.

Sementara pada akhir Mei lalu, dana kelolaan reksadana juga tercatat menurun. OJK mencatat, dana kelolaan reksadana di Indonesia per Mei 2022 mencapai Rp558,21 triliun, turun Rp8,23 triliun (-1,45 persen) dari posisi per April 2022 yang senilai Rp566,44 triliun.

Sebagai informasi, penurunan tersebut merupakan penurunan AUM untuk kelima kali beruntun sejak awal tahun ini. Dengan kata lain, sepanjang lima bulan pertama tahun ini, belum sekalipun AUM industri reksadana mencatatkan pertumbuhan positif.

Di sisi lain, penurunan AUM yang terjadi pada bulan lalu juga disebabkan oleh keluarnya sebagian pelaku pasar, di mana mereka cenderung mengurangi kepemilikan reksadananya. Hal itu terlihat dari berkurangnya unit penyertaan dari sebelumnya 410,59 miliar unit per April 2022, menjadi 405,91 miliar unit penyertaan per Mei 2022.

Artinya, sepanjang bulan lalu terdapat penurunan unit penyertaan 4,68 miliar atau -1,14 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Penurunan AUM industri reksadana yang terjadi pada April 2022 secara umum memang disebabkan oleh penurunan mayoritas jenis reksadana yang ada. Berdasarkan data OJK, dari 9 jenis reksadana yang ada, 7 diantaranya menorehkan penurunan AUM, sementara hanya 2 jenis yang mencatatkan kenaikan AUM.

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat reksadana pasar uang mengalami penurunan terbesar atau merosot Rp6,43 triliun jadi Rp102,79 triliun dan berkontribusi paling besar terhadap penurunan AUM industri, disusul oleh reksadana terproteksi dan reksadana pendapatan tetap yang juga turun cukup dalam masing-masing Rp1,15 triliun dan Rp1,07 triliun.

Prediksi di Semester II

Direktur Utama Pinnacle Persada Investama Guntur Surya Putra sebelumnya mengatakan secara historis, investor cenderung mengurangi sebagian dari portofolionya memasuki musim libur, terutama pada Lebaran dan pertengahan tahun. Dalam lima tahun terakhir, periode libur Lebaran ini umumnya terjadi pada rentang bulan Mei – Juli.

"Secara siklus, investor memang cenderung menjual portofolionya pada masa libur Lebaran. Hal ini sesuai dengan terminologi yang cukup populer, yaitu Sell in May and Go Away,” jelasnya.

Direktur Utama Trimegah Asset Management, Antony Dirga juga meyakini, tren pertumbuhan dana kelolaan reksadana akan mulai membaik pada paruh kedua tahun 2022. Hal ini sejalan dengan prospek perkembangan pasar saham dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditargetkan oleh Trimegah di level 7.800 pada akhir 2022.

Reksadana adalah

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(K09/AM)

 ​***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.