IHSG Ambrol di Bawah 7.000, Ini Top 10 Reksadana yang Bertahan Cuan

Sepanjang periode sepekan dari 13 hingga 17 Juni 2022, IHSG mengakumulasi penurunan 2,11 persen ke level 6.936,97
Abdul Malik • 20 Jun 2022
cover

Ilustrasi top 10 reksadana imbalan tertinggi. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan cukup hebat pada pekan lalu hingga harus terlempar dari level psikologis 7.000. Dalam perdagangan yang berlangsung dari 13 hingga 17 Juni 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang lebih banyak berakhir di zona merah sebanyak 3 kali, yang akhirnya membawa indeks saham kebanggaan Indonesia ini mengakumulasi penurunan 2,11 persen ke level 6.936,97.

Di sisi lain, sepanjang pekan lalu investor asing terlihat lebih dominan keluar dari pasar saham Tanah Air dengan catatan aksi jual bersih (net sell) yang mencapai Rp2,03 triliun di pasar reguler. Pergerakan IHSG memang senada dengan mayoritas bursa saham global yang menorehkan penurunan berjamaah.

Di level Asia, Sensex (India) ambles 5,42 persen, Straits Times (Singapura) anjlok 2,63 persen, dan PSEI (Filipina) jatuh 3,04 persen. Bursa saham Eropa pun setali tiga uang. Dalam sepekan, FTSE 100 (Inggris) ambrol 4,12 persen, DAX (Jerman) rontok 4,62 persen, dan CAC (Prancis) minus 4,92 persen.

Situasi serupa terjadi di bursa saham Amerika Serikat (AS). Dalam seminggu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 4,8 persen, S&P 500 ambruk 5,8 persen, dan Nasdaq 100 turun 4,8 persen.

Melansir CNBC Indonesia, Runtuhnya bursa saham global dipicu oleh keagresifan bank sentral Amerika Serikat (AS) (Federal Reserve/The Fed) yang akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin di bulan ini. Kenaikan tersebut memang sudah diperkirakan oleh pasar dan disambut positif.

Namun, data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan adanya perlambatan pada ekonomi, sehingga meningkatkan potensi resesi. Padahal, sebelumnya Ketua The Fed Jerome 'Jay' Powell mengatakan tidak ada tanda-tanda pelemahan ekonomi dan The Fed dapat mengambil jalur hawkish untuk meredam inflasi.

Tanda-tanda tersebut mulai dari pertama, inflasi AS per Mei yang kembali melonjak ke 8,6 persen secara tahunan (YOY) hingga menyentuh rekor tertinggi sejak 41 tahun. Angka inflasi tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya di April yang hanya di 8,3 persen. Dengan begitu, pasar memprediksikan bahwa inflasi AS belum mencapai puncaknya.

Kedua, dari sektor perumahan pada Mei terjadi penurunan pembangunan rumah hingga 14,4 persen, padahal saat ini di Amerika Serikat sedang terjadi kelangkaan rumah bahkan dikatakan pada level kronis.

Ketiga, dari sektor manufaktur di wilayah Philadelpiha kembali mengalami kontraksi, pengajuan klaim tunjangan pengangguran mingguan juga lebih tinggi dari perkiraan.

Keempat, kenaikan harga yang tinggi juga membuat daya beli masyarakat AS ikut terdampak yang tercermin dari penjualan ritel yang terkontraksi 0,3 persen bulan Mei lalu.

Banyak pelaku pasar yang khawatir ekonomi AS akan mengalami resesi dan parahnya bisa terjadi stagflasi seperti yang dialami Paman Sam kurang lebih setengah abad lalu. Chief Equity Strategist Quincy Krosby LPL Financial mengatakan bahwa Fed bisa saja membuat kesalahan dalam pengambilan kebijakan (policy error).

Lebih lanjut Krosby juga mengungkapkan bahwa The Fed tidak memberikan arahan yang jelas tentang kenaikan suku bunga di bulan Juli nanti, apakah dinaikkan 50 bps atau sama dengan Juni 2022 sebesar 75 bps.

Guidance yang tidak jelas dari Powell serta komentarnya tentang kondisi perekonomian yang tidak sesuai kenyataan membuat pasar pun dibuat galau dan bergerak dengan volatilitas tinggi. Sebagai kiblat pasar keuangan dunia, wajar jika apa yang terjadi di Wall Street akan turut berdampak ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia dan pasar sahamnya.

Kinerja Mayoritas Jenis Reksadana Tertekan

Kondisi pasar saham yang mengalami koreksi pada pada pekan lalu, secara umum turut memberikan tekanan kepada kinerja mayoritas jenis reksadana, di mana yang berbasis saham mencatatkan kinerja terburuk.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham menjadi yang paling parah pada pekan lalu dengan anjlok 2,22 persen, disusul oleh indeks reksadana campuran dengan pelemahan 1,59 persen.

Sementara itu, indeks reksadana pendapatan tetap juga ikut terkoreksi 0,81 persen. Alhasil hanya indeks reksadana pasar uang yang mampu tumbuh positif pada pekan lalu dengan kenaikan 0,02 persen.

Sumber : Bareksa

Kemudian di sisi lain, top 10 produk reksadana yang berhasil mencatatkan imbal hasil (return) mingguan tertinggi pada pekan lalu didominasi oleh reksadana dengan risiko konservatif, di mana reksadana pasar uang sebanyak 5 produk, disusul reksadana pendapatan tetap sebanyak 4 produk, dan reksadana campuran 1 produk.

Reksadana tersebut di antaranya STAR Balanced II dengan imbalan 1 persen sepekan. Disusul Syailendra Pendapatan Tetap Premium dan Sucorinvest Stable Fund dengan imbal hasil masing-masing 0,14 persen, Sucorinvest Sharia Sukuk Fund dengan imbalan 0,12 persen dan Avrist Ada Kas Mutiara dengan return 0,11 persen. 

Selengkapnya 10 produk reksadana yang berhasil bertahan cuan saat pasar saham ambrol hingga tersungkur di bawah 7.000 sepanjang pekan lalu, sebagaimana tertera dalam tabel. 

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.