Hanya Nabung Reksadana Setara Rp9.200 per Hari, Bisa Punya Samsung Galaxy S10

Bareksa • 22 Feb 2019

an image
Samsung Galaxy S10

Reksadana campuran terbukti mampu memberikan imbal hasil menarik dalam jangka menengah dengan risiko yang moderat

Bareksa.com - Raksasa smartphone asal Korea, Samsung akhirnya resmi merilis trio Galaxy S10 dalam sebuah acara di San Francisco pada Rabu 20 Februari 2019 pukul 11.00 waktu setempat atau waktu Indonesia pada Kamis 21 Februari 2019 pukul 02.00 WIB.

Melalui perangkat Galaxy S10, Samsung ingin merayakan 10 tahun seri Galaxy S hadir di dunia. Seolah mengonfirmasi seluruh rumor yang beredar, Galaxy S10 dan Galaxy S10 Plus akan menjadi flagship terbaru Samsung di tahun ini. Sementara Galaxy S10E akan hadir sebagai varian yang lebih “murah” dibandingkan dengan dua Galaxy S10 lainnya.

Ketiga ponsel Galaxy S10 sudah dinantikan dalam waktu yang cukup lama. Tidak terhitung ada berapa banyak rumor dan bocoran mengenai trio Galaxy S10 ini. Galaxy S10 hadir sebagai ponsel standar dari trio smartphone ini, sementara Galaxy S10 Plus akan menyandang spesifikasi yang lebih tinggi dari kedua saudaranya tersebut.

Samsung Galaxy S10 menjadi topik utama dalam peluncuran yang dilakukan Samsung tadi malam. Tak hanya itu, Galaxy S10 digadang-gadang menjadi ponsel yang paling dinanti-nanti oleh khalayak.

Flagship Samsung ini nyatanya hadir dengan spesifikasi yang cukup impresif. Galaxy S10 dibekali dengan layar Dynamic AMOLED 6,1 inci QHD+ dengan ratio 19:9 dan 550 ppi. Di layar Galaxy S10 tertanam sebuah kamera 10 MP. Samsung menggunakan konsep punch hole untuk mengakomodir layar Infinity Display tanpa gangguan notch.

Di bagian belakang, Galaxy S10 dibekali dengan tiga kamera dengan konfigurasi 16 MP f/2.2 ultra wide, 12 MP f/2.4 telefoto dengan stabilizer OIS dan 12 MP yang bukaannya dapat berganti antara f/1.5 dan f/2.4. Kamera belakang Galaxy S10 dikatakan dapat merekam video dengan kualitas 4k pada 60fps.

Masih di bagian depan, Samsung membekali Galaxy S10 dengan pengaman biometrik ultrasonik fingerprint. Adapun Samsung Galaxy S10 merupakan perangkat komersial pertama di dunia yang hadir dengan teknologi ultrasonik.

Dapur pacunya mengandalkan Snapdragon 855 dengan konfigurasi RAM 8 GB dan pilihan memori internal antara 128 GB hingga 512 GB. Sementara itu, di dalam Galaxy S10 juga tertanam baterai berkapasitas 3400 mAh yang mendukung sistem pengisian cepat 15W. Untuk diketahui, Samsung Galaxy S10 juga dapat digunakan sebagai powerbank, dengan teknologi reverse charging.

Tertarik untuk memiliki smartphone tersebut? Sebagai informasi, Samsung membanderol Galaxy S10 dengan harga US$899 untuk versi paling rendahnya. Dengan mengacu pada harga tersebut, kemungkinan harga Galaxy S10 series di Indonesia sekitar Rp12,6 jutaan untuk Galaxy S10.

Simulasi Reksadana

Kalau ingin mengumpulkan uang untuk membeli Galaxy S10 tersebut, kita dapat mencoba sebuah teknik sederhana dengan rutin menginvestasikan uang ke produk investasi yaitu reksadana campuran yang memberikan imbal hasil (return) cukup tinggi dengan risiko moderat. Untuk memahaminya, mari kita lakukan simulasi menggunakan data historikal Bareksa.

Sumber: Bareksa

Misalkan kita mampu menyisihkan uang Rp275.000 setiap bulannya atau sekitar Rp9.200 per hari selama tiga tahun (periode 21 Februari 2016 – 21 Februari 2019). Kemudian, uang tersebut secara rutin tiap bulan diinvestasikan ke dalam produk reksadana campuran Sucorinvest Flexi Fund, yang dikelola oleh PT Sucorinvest Asset Management.

Sumber: Bareksa

Alhasil uang pokok yang berhasil kita kumpulkan selama tiga tahun sebesar Rp10,18 juta. Tidak sampai di situ, karena diinvestasikan di reksadana, uang kita berhasil tumbuh Rp2,88 juta (28,28 persen) dalam periode tersebut, sehingga totalnya menjadi Rp13,05 juta.

Dengan demikian, uang yang berhasil kita simpan dan investasikan ke dalam reksadana campuran telah mencukupi keinginan untuk membeli smartphone Galaxy S10.

Melihat simulasi tersebut, reksadana campuran telah terbukti mampu memberikan imbal hasil yang menarik dalam jangka menengah dengan risiko yang moderat. Hasil investasi ini tentu lebih tinggi ketimbang hanya ditabung di celengan atau rekening bank saja.

Mengapa hasil investasi reksadana bisa tumbuh?

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Investasi pada reksadana campuran disarankan hanya untuk investor agresif, yakni investor yang dapat menerima risiko tinggi, terutama risiko fluktuasi NAB (nilai aset bersih) per unit reksadana saham. Investasi reksadana campuran menguntungkan apabila dilakukan dalam jangka menengah hingga panjang (sekitar tiga hingga lima tahun).

Untuk kenyamanan berinvestasi, kita juga perlu memahami profil risiko kita sebagai investor.

Sebagai informasi, mayoritas reksadana di Bareksa bisa dibeli dengan modal Rp100.000 saja. Jadi dengan modal minimal, investor bisa juga menikmati keuntungan maksimal.

(KA01/hm)

* * *

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.