Begini Cara Maksimalkan Untung Strategi Lump Sum & Berkala di Reksa Dana

Bareksa • 23 Sep 2016

an image
Kumpulan uang rupiah nominal Rp100.000,- (Flickr/Nicola)

Kedua strategi bisa digunakan pada saat kondisi pasar keuangan terkoreksi dengan alat Kalkulator Perencanaan Bareksa

Bareksa.com – Dalam berinvestasi reksa dana, tentunya setiap orang memiliki strategi agar investasi yang dilakukan dapat menguntungkan. Pada reksa dana, terdapat 2 strategi investasi yakni dengan cara menyetor sekaligus (lump sum) atau dicicil secara berkala (dollar cost averaging). (Baca juga: Strategi Investasi Sekaligus atau Berkala, Mana Lebih Untung?)

Dari kedua strategi tersebut, terkadang investor pemula seringkali bingung memilih strategi yang tepat untuknya. Namun, sebenarnya cara tersebut dapat kita gabungkan pada investasi reksa dana, tentunya dengan harapan keuntungan yang didapat tetap bisa lebih maksimal. 

Dengan menggunakan tools Kalkulator Perencanaan yang tersedia di Bareksa, kita dapat mempersiapkan besaran dana yang harus kita sisihkan untuk tujuan keuangan dalam nominal dan jangka waktu tertentu secara berkala. Kemudian, dengan alat ini juga kita dapat mengetahui hasil keuntungan (return) yang kita peroleh pada investasi. Dengan begitu, apabila hasil yang investasikan mengalami penurunan maka kita dapat melakukan strategi lump sum.

Mari kita ilustrasikan penggunanaan tools ini. Misalnya saja seorang karyawan swasta bernama Polan bertujuan ingin menikah dalam jangka waktu 5 tahun ke depan (60 bulan) dengan biaya pernikahan sekitar Rp100 juta. Dalam mewujudkan tujuannya ini, ia berniat menyimpan uangnya pada reksa dana pendapatan tetap yang memiliki risiko sedang dengan perkiraan tingkat keuntungan sekitar 9 persen per tahun. 

Tabel: Kalkulasi Perencanaan Investasi


 
Berdasarkan hasil kalkulator Perencanaan di atas, Polan harus menyisihkan dana sekitar Rp1,3 juta per bulan. Dalam 5 tahun, uang tersebut telah terkumpul sebanyak Rp79,55 juta dan telah berkembang menjadi Rp100 juta karena adanya keuntungan investasi per tahun sekitar 9 persen. Dengan kata lain, investasi Polan menghasilkan untung sebesar Rp20,45 juta, seperti yang tampak pada grafik dan tabel di bawah ini:  

Grafik: Perkiraan Hasil Investasi Bulanan

Sumber: Bareksa.com

Namun, terdapat hal yang perlu diingat dalam investasi pasti mengandung risiko, tak terkecuali pada reksa dana. Bisa saja Polan mengalami penurunan pertumbuhan keuntungan di kala pasar keuangan mengalami koreksi seperti yang terjadi pada saat ini.  

Tentunya hal ini juga akan berimbas pada hasil investasi menjadi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Misalnya pada investasi Polan, pada periode September 2017 total dana mengalami penurunan menjadi Rp16,48 juta, sedangkan menurut perkiraan investasi pada periode ini total dana menjadi Rp16,58 juta. Sehingga total pertumbuhan hasil investasi Polan turun dari Rp559,4 ribu menjadi Rp548,8 ribu seperti yang tampak pada tabel dibawah ini: 

Meski secara jangka panjang tren investasi mengalami kenaikan, dalam jangka waktu pendek investasi bisa saja mengalami penurunan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tujuan keuangan tidak tercapai, kita dapat menambah investasi reksa dana pada saat terjadi penurunan. 

Dalam hal ini, Polan dapat menerapkan strategi lump sum yakni dengan menambah investasi dengan nominal tertentu untuk mempertahankan hasil investasi yang diharapkan yakni tetap Rp100 juta dan tidak berkurang hingga akhir masa tujuan investasi. Dengan begitu ketika pasar keuangan kembali melanjutkan tren positifnya uang yang disimpan pada reksa dana dengan waktu yang lebih lama dapat bertumbuh lebih besar dari perkiraan hasil investasi awal yang kita lakukan. (hm)

**

Ingin berinvestasi reksa dana?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.