Bareksa Insight : Pasar Saham Tertekan Isu Global, Waktunya Borong Reksadana Ini

Momentum penurunan pasar saham saat ini, bisa menjadi pertimbangan bagi investor untuk melakukan akumulasi bertahap di reksadana saham dan reksadana indeks, karena harganya sedang murah
Abdul Malik • 17 May 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana yang terus bertumbuh, meskipun pasar saham sedang tertekan. (Shutterstock)

Bareksa.com - Sepanjang pekan lalu, pasar saham yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan terendah sejak Januari 2022 ke level 6,597.99 pada Jumat  (13/5/2022). Menurut analisis Bareksa, anjloknya pasar saham akibat tertekan sentimen isu global, seperti pengetatan ekonomi Amerika Serikat (AS), efek belum berakhirnya konflik Rusia - Ukraina, hingga perlambatan ekonomi China. 

Namun, menurut analisis Bareksa, kuatnya ekonomi dalam negeri diproyeksikan dapat menopang pasar keuangan Indonesia. Sehingga momentum penurunan pasar saham saat ini, bisa menjadi pertimbangan bagi investor untuk melakukan akumulasi bertahap di reksadana saham dan reksadana indeks, karena harganya sedang murah. 

Di sisi lain, tekanan pada pasar obligasi sedikit berkurang pada akhir pekan lalu pasca kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen yang menunjukkan optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi yang masih kuat ditengah kondisi global yang kurang stabil. Indeks obligasi (ICBI) tercatat bergerak mendatar dengan kenaikan tipis 0,01 persen, sehingga turut menopang kenaikan sejumlah reksadana pendapatan tetap.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa melihat eskalasi konflik Rusia - Ukraina masih cukup mempengaruhi pergerakan sejumlah harga komoditas bertahan di level yang tinggi. Karena itu, investor dapat mempertimbangkan untuk akumulasi bertahap di reksadana saham dan reksadana indeks berbasis sektor energi.

Selain itu, data neraca perdagangan bulan April yang akan dirilis pada hari ini diproyeksikan masih mencatat surplus dan dapat menjadi sentimen positif untuk pasar obligasi serta reksadana pendapatan tetap.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana pendapatan tetap yang cukup tahan banting dan bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko agresif dan moderat adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (13 Mei 2022)

Reksadana Indeks

RHB SRI KEHATI Index Fund : 18,51 persen
Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A : 18,3 persen

Reksadana Saham

Sucorinvest Equity Fund : 23,75 persen
TRIM Kapital Plus : 16,86 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 13 Mei 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Ganesha Abadi Kelas G : 18,91 persen
Eastspring Investments IDR High Grade Kelas A : 17,23 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.