Bareksa Insight : Suku Bunga BI Stabil, Reksadana Ini Menarik

BI kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen, merupakan level terendah sepanjang sejarah, dan sudah dipertahankan dalam 13 bulan terakhir
Abdul Malik • 11 Feb 2022
cover

Logo Bank Indonesia di pagar gedung Bank Indonesia, Jakarta (shutterstock)

Bareksa.com -  Sejumlah reksadana pendapatan tetap mencatatkan penguatan tipis seiring dengan rilis suku bunga acuan Bank Indonesia yang kembali dipertahankan di 3,5 persen dalam hasil rapat dewan gubernur kemarin (11/2/2022). 

Suku bunga acuan BI 3,5 persen, merupakan level terendah sepanjang sejarah BI Rate dan telah dipertahankan dalam 13 bulan terakhir, atau sejak Februari 2021. Keputusan BI mempertahankan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Namun analisis Bareksa memproyeksikan hari ini kinerja reksadana pendapatan tetap akan sedikit melemah dipengaruhi tingginya imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menembus level 2 persem semalam. Kenaikan yield Obligasi AS karena tingginya kenaikan harga (inflasi) di Negeri Paman Sam akibat gangguan suplai.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 10/02/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,5 persen pada 10 Februari 2022. 

Di sisi lain, pasar saham yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin mengalami koreksi wajar, setelah sepekan mengalami penguatan signifikan. Seiring dengan penurunan kinerja Bursa Saham AS tadi malam, maka diproyeksikan IHSG juga akan kembali melemah pada hari ini. 

Tingginya yield obligasi akan membuat pasar saham menjadi kurang atraktif di mata investor dalam waktu dekat. Namun, seiring dengan pemulihan ekonomi, IHSG masih cukup menarik dalam jangka panjang.IHSG pada 10 Februari 2022 turun 0,16 persen ke level 6.823. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Mempertimbangkan beberapa risiko tersebut, menurut analisis Bareksa, investor dapat melakukan diversifikasi ke reksadana pasar uang karena potensi kenaikan suku bunga acuan BI tahun ini, yang akan mendorong kenaikan suku bunga deposito.

Selain itu, investor juga dapat pertimbangkan akumulasi investasi di emas secara bertahap, seiring pelemahan dolar AS, sehingga membuat logam mulai diproyeksikan tetap atraktif hingga pertengahan tahun ini. Baik reksadana pasar uang maupun emas bisa dijadikan instrumen diversifikasi investasi. 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Adapun bagi investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 10 Februari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 26,67 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 21,95 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 10 Februari 2022)

Reksadana Saham

BNP Paribas Pesona Syariah : 7,53 persen
Schroder Dana Prestasi Plus : 12,72 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 21.27 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 19,48 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

​(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo SucahyoAM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.