Sentimen Global Bayangi Pasar Saham dan Obligasi, Reksadana Ini Masih Handal

Bursa Saham Asia dibuka melemah pagi ini (21/1/2022), setelah Indeks Nasdaq, S&P 500 serta Dow Jones Index yang juga kompak ditutup melemah semalam
Abdul Malik • 21 Jan 2022
cover

Ilustrasi kinerja bursa saham global termasuk Indeks Nasdaq yang berpengaruh terhadap kinerja pasar saham dan obligasi nasional, dan berdampak pada kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diproyeksikan masih akan bergerak terbatas menyusul Bursa Saham Asia yang dibuka melemah pagi ini (21/1/2022), setelah Indeks Nasdaq, S&P 500 serta Dow Jones Index yang juga kompak ditutup melemah semalam. 

Dari dalam negeri sendiri, sentimen masih dari kasus harian Covid-19 yang kembali mencatat angka tertinggi sejak Oktober 2021 yang mencapai 2.116 kasus baru kemarin. 

Analisis Bareksa melihat angka tersebut masih cukup terkendali dengan puncak kasus akan terjadi pada minggu keempat Januari hingga minggu kedua Februari 2022. 

IHSG pada perdagangan kemarin (20/1/2022) naik 0,53 persen ke level 6.626,87. 

Adapun dari pasar obligasi, investor masih mencermati hasil rapat dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang akan berlangsung pekan depan. 

Data perekonomian AS seperti klaim pengangguran meningkat di luar ekspektasi pasar, sehingga membuat kekhawatiran perekonomian Negara Paman Sam terpengaruh dengan melonjaknya kasus Covid-19 varian Omicron. 

Imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah AS bertahan di level 1,82 persen dan Indonesia ditutup di level 6,42 persen pada perdagangan kemarin. 

Baca : SBN Ritel Pertama 2022, Ini Jadwal Penetapan Kupon hingga Masa Penawaran ORI021

Di tengah peluang terbatasnya pergerakan pasar saham dan obligasi, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja handal berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 20 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,61 persen
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A: 31,85 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 20 Januari 2022)

Reksadana Saham

BNI-AM Inspiring Fund : 10,5 persen
Schroder Dana Prestasi Plus: 9,8 persen

Reksadana Indeks 

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,61 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 16.36 persen

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Bareksa's Investor Navigator

Reksadana 

Analisis Bareksa melihat kinerja reksadana saham akan kembali bergerak terbatas akibat minimnya sentimen baik dari sisi sektoral maupun dalam negeri. Sektor komoditas hari ini akan sedikit tertekan akibat harga minyak dunia dan batu bara yang turun signifikan pada perdagangan kemarin. 

Analisis Bareksa memprediksi saham berbasis energi fosil akan bergerak cukup terbatas pada tahun ini mengingat kenaikan yang cukup tinggi sudah terjadi pada tahun lalu. 

Investor juga perlu mencermati alokasi sektor yang ada di reksadana saham yang dipilih dengan mempertimbangkan adanya sektor ekonomi riil yang akan bergerak lebih  cepat nantinya pada saat perekonomian sudah berjalan dengan normal.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di dan reksadana secara online yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.