Ekonomi Solid Jadi Sentimen Positif Buat Pasar Keuangan Indonesia

Surplus neraca perdagangan pada Desember 2021 menandai tren surplus selama 20 bulan berturut-turut
Abdul Malik • 18 Jan 2022
cover

Pekerja beraktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (17/10/2019). Badan Pusat Statistik mencatat surplus neraca perdagangan pada Desember 2021 mencapai US$1,02 miliar. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan November, namun surplus neraca perdagangan Desember 2021 menandai tren surplus selama 20 bulan berturut-turut. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj)

Bareksa.com - Indeks Harga Obligasi Indonesia (Indonesia Composite Bond Index/ICBI) naik tipis sekitar 0,02 persen dan menopang penguatan terbatas mayoritas reksadana pendapatan tetap pada perdagangan kemarin. Menurut analisis Bareksa, investor masih wait and see (menanti) karena pasar keuangan Amerika Serikat libur pada hari ini. 

Di sisi lain, Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan US$1,02 miliar yang menandakan jika pemulihan ekonomi masih solid dan turut menjadi sentimen positif untuk pasar keuangan Indonesia.

Surplus neraca perdagangan pada Desember 2021 mengalami penurunan dibandingkan November. Meski begitu, surplus pada Desember 2021 menandai tren surplus selama 20 bulan berturut-turut. Penurunan surplus di Desember disebabkan impor yang menguat, terutama karena naiknya
permintaan domestik sejalan dengan tren menguatnya aktivitas ekonomi domestik

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 17/01/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 6,4 persen pada 17 Januari 2022.

Adapun dari pasar saham, kenaikan kasus Covid-19 yang sempat menembus 1,000 kasus per hari pada akhir pekan lalu jadi sentimen negatif yang menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini. 

Tekanan di pasar saham mengakibatkan pelemahan kinerja mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks. Namun, analisis Bareksa menilai, perbaikan rilis data ekonomi diproyeksikan mampu menopang pergerakan IHSG.

Sehingga indeks saham Tanah Air diproyeksikan akan bergerak cenderung mendatar hari ini. IHSG pada perdagangan kemarin (17/1/2022) turun 0,72 persen ke level 6.645,05. 

Baca : SBN Ritel Pertama 2022, Ini Jadwal Penetapan Kupon hingga Masa Penawaran ORI021

Di tengah kondisi pasar obligasi dan saham yang cenderung mendatar, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks dengan kinerja mantul berikut ini : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 17 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

TRAM Strategic Plus : 28,99 persen
Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 28,65 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 17 Januari 2022)

Reksadana Saham

BNI-AM Inspiring Equity Fund : 9,96 persen
TRIM Kapital : 6,97 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 17,8 persen
BNP Paribas Sri Kehati : 15,95 persen

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Bareksa's Investor Navigator

Reksadana

Pada perdagangan hari ini reksadana berbasis saham masih diprediksi akan bergerak terbatas, setelah kemarin IHSG turun cukup signifikan akibat adanya aksi profit taking dari investor. 

Analisis Bareksa melihat kinerja ekonomi di sektor riil akan jadi salah satu penopang kinerja IHSG ke depannya mengingat impor barang konsumsi dan barang modal naik signifikan pada 2021. 

Selain itu pemerintah juga menyetujui program insentif PPn untuk rumah baru maksimal hingga 50 persen sampai dengan Juni 2022 dan untuk insentif PPnBM berlangsung hingga akhir 2022. Kedua sektor tersebut memiliki multiplier effect yang besar terhadap perekonomian negara.  

Obligasi 

Untuk pasar obligasi pekan ini akan sedikit mengalami tekanan mengingat imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS masih bertahan di level 1,7 persen. Kondisi itu akan membuat yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia akan cenderung naik dan menyebabkan harga obligasi domestik terkoreksi untuk menjaga yield spread tetap menarik di mata investor global. 

Namun, hari ini akan diadakan lelang SBN dengan nilai indikatif sekitar Rp25 triliun hingga Rp37,5 triliun yang diproyeksikan turut menopang kinerja SBN serta reksadana pendapatan tetap.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.