
Bareksa - Ketidakpastian global kembali meningkat. Konflik geopolitik yang belum mereda mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas, yang pada akhirnya memberi tekanan pada inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Data terbaru BPS menunjukkan inflasi Indonesia pada Maret 2026 berada di level 3,48% (year on year). Meski masih relatif terkendali, kondisi ini tetap menjadi tantangan bagi investor—terutama dalam menjaga nilai uang agar tidak tergerus.
Di tengah situasi seperti ini, strategi investasi tidak lagi sekadar mencari instrumen yang “aman”, tetapi juga yang mampu memberikan imbal hasil riil (real yield) yang positif. Produk dengan risiko rendah yang bisa jadi pertimbangan termasuk SBN Ritel SR024 dan reksa dana pasar uang.
Kenaikan harga energi dan komoditas akibat konflik global memiliki efek berantai terhadap ekonomi. Biaya produksi meningkat, harga barang naik, dan pada akhirnya daya beli masyarakat ikut tertekan.
Bagi investor, tantangan utamanya sederhana: apakah hasil investasi mampu mengimbangi inflasi?
Jika tidak, maka secara riil nilai uang justru menyusut, meskipun secara nominal terlihat bertambah.
Imbal hasil riil adalah selisih antara return investasi dengan tingkat inflasi. Konsep ini menjadi penting, terutama dalam kondisi inflasi yang meningkat.
Sebagai gambaran:
Bunga deposito: sekitar 3,5% per tahun (dijamin LPS)
Inflasi: 3,48%
Artinya, imbal hasil riil hampir nol, bahkan bisa negatif setelah pajak. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menggerus nilai aset.
Karena itu, investor perlu mempertimbangkan instrumen yang mampu memberikan return di atas inflasi.
Salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan adalah Sukuk Negara Ritel seri SR024. Produk ini menawarkan imbal hasil tetap sebesar 5,55% hingga 5,9% per tahun (gross).
Keunggulan SR024 antara lain:
Imbal hasil tetap (fixed rate) hingga jatuh tempo, dibayar tiap bulan
Dijamin negara, sehingga risikonya sangat rendah
Berbasis prinsip syariah
Cocok untuk investor yang mengutamakan stabilitas
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, instrumen seperti SR024 memberikan kepastian arus kas yang relatif stabil, sehingga dapat menjadi “anchor” dalam portofolio investasi.
Detail SBN Syariah SR024
Keterangan | SR024T3 | SR024T5 |
|---|---|---|
Tenor | 3 Tahun | 5 Tahun |
Kupon | 5,55% per tahun | 5,90% per tahun |
Pembayaran kupon | Setiap bulan | Setiap bulan |
Pajak kupon | 10% | 10% |
Minimal investasi | Rp1 juta | Rp1 juta |
Sumber: Memorandum Informasi SR024, diolah Bareksa
Selain itu, reksa dana pasar uang (RDPU) juga menjadi pilihan menarik, terutama untuk kebutuhan likuiditas.
Berdasarkan data Bareksa per 7 April 2026, RDPU mampu mencatatkan return sekitar 6% per tahun (net)—lebih tinggi dari inflasi saat ini.
Keunggulan RDPU:
Likuiditas tinggi, bisa dicairkan kapan saja
Risiko rendah, karena investasi di instrumen pasar uang
Cocok untuk dana darurat atau parkir dana sementara
Dibandingkan deposito, RDPU menawarkan potensi imbal hasil yang lebih kompetitif dengan fleksibilitas yang lebih tinggi.
Reksa Dana Pasar Uang Terbaik* April 2026 di Bareksa
Reksa Dana Pasar Uang | Return 1 Tahun |
|---|---|
Setiabudi Dana Pasar Uang | 5,50% |
Danapathi Money Market Fund | 5,57% |
KIM Money Market Fund | 5,33% |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 5,22% |
Sucorinvest Money Market Fund | 5,24% |
*Berdasarkan nilai Bareksa Barometer, data return per 7 April 2026, sumber: Bareksa
Berikut gambaran sederhana beberapa instrumen yang umum digunakan:
Instrumen | Imbal Hasil | Risiko | Likuiditas |
|---|---|---|---|
SR024 | 5,55–5,9% | Sangat rendah | Menengah |
RD Pasar Uang | ~6% | Rendah | Tinggi |
Deposito | ~3,5% | Sangat rendah | Menengah |
Sumber: Bareksa
Dari tabel tersebut terlihat bahwa SR024 dan RDPU sama-sama menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan deposito, dengan profil risiko yang tetap terjaga.
Di samping itu, baik SR024 maupun RDPU menunjukkan real yield yang positif, bersih setelah potongan pajak. Artinya, instrumen investasi tersebut sama-sama bisa menjaga nilai uang dari inflasi.
Alih-alih memilih salah satu, investor juga dapat menggabungkan keduanya dalam portofolio.
Sebagai contoh:
50% di SR024 untuk mendapatkan imbal hasil stabil
50% di RDPU untuk menjaga likuiditas
Strategi ini memberikan keseimbangan antara kepastian return dan fleksibilitas dana, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar.
Tentu, komposisi dapat disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.
Dalam kondisi pasar yang tidak pasti, banyak investor cenderung menunggu situasi lebih “jelas”. Namun, pendekatan ini sering kali membuat peluang terlewat.
Justru saat volatilitas meningkat:
Imbal hasil instrumen relatif lebih menarik
Investor bisa “mengunci” return yang lebih tinggi
Strategi defensif menjadi lebih relevan
Dengan inflasi di kisaran 3,48%, instrumen seperti SR024 dan RDPU masih mampu memberikan imbal hasil riil yang positif, sehingga membantu menjaga daya beli.
Ketidakpastian global dan tekanan inflasi menuntut investor untuk lebih cermat dalam memilih instrumen.
Menempatkan dana hanya pada tabungan atau deposito mungkin terasa aman, tetapi belum tentu cukup untuk menjaga nilai uang dalam jangka panjang.
Sebaliknya, instrumen seperti SBN ritel syariah SR024 dan reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif yang lebih optimal—dengan kombinasi risiko rendah, imbal hasil kompetitif, dan potensi imbal hasil riil yang tetap positif.
Dengan strategi yang tepat, investor tidak hanya melindungi aset, tetapi juga tetap melangkah menuju tujuan keuangan di masa depan.
1. Apa itu imbal hasil riil?
Imbal hasil riil adalah return investasi setelah dikurangi inflasi.
2. Apakah SBN syariah aman?
Ya, karena dijamin oleh negara, sehingga memiliki risiko gagal bayar yang sangat rendah.
3. Lebih baik reksa dana pasar uang atau deposito?
RDPU umumnya menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan likuiditas lebih fleksibel dibanding deposito.
4. Kapan waktu terbaik berinvestasi di SBN?
Saat imbal hasil masih menarik dan inflasi meningkat, sehingga investor bisa mengunci return lebih optimal.
(hm)
Tentang Penulis
* Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.